Langsung ke konten utama

DARI PERSUASI KE VERIFIKASI: INTEGRASI RETORIKA KLASIK DAN ETIKA KOMUNIKASI DALAM SUDUT PANDANG KOMPARATIF ILMU FILSAFAT DAN AL-QUR'AN

Di kalangan mahasiswa sendiri mungkin beberapa sudah biasa menemui basic yang menjadi ciri khas yaitu: public speaking. Dari asumsi tersebut memang sangat benar, namun saya pikir hal itu lebih sempurna apabila di kombinasikan dengan ilmu retorika. Dikarenakan output dari public speaking sendiri hanya sekedar mengolah dan mengembangkan ketrampilan berbahasa atau komunikasi. Dan arahnya hanya akan tertuju pada pemahaman dari lawan bicara ataupun audiens. Namun apabila ilmu retorika, hal itu berbeda dengan public speaking. Output dari retorika sendiri mengarah ke persuasif atau mengelabuhi dengan cara halus. Jadi sasaran dari retorika yaitu: dari segi kognitif dan juga afektif bukan hanya sekedar pemahaman. Dan bisa disimpulkan ilmu retorika disisni terdapat nilai komunikasi yang lebih dikarenakan hal itu hingga dapat mempengaruhi lawan bicara. Nah apabila kita sudah mengetahui perbandingan dari public speaking dan ilmu retorika, maka dari sini kita dapat menemukan kesimpulan bahwasanya b...

Makna “Bi Ḥablillāh” sebagai Prinsip Persatuan dalam Islam : Kajian Tafsir QS. Ali-Imran (3) : 103

Di UIN Syech Wasil Kediri lebih tepatnya pada fakultas FUDA (Fakultas Ushuluddin dan Dakwah) prodi IAT (Ilmu Al Qur'an dan Tafsir) telah melaksanakan TAFASIR atau biasa disebut PBAK Prodi. PBAK merupakan awal perjalanan kita di kampus yang notabene beragama islam. Suasana penuh tawa, canda, dan keakraban membuat dua hari terasa begitu cepat. Dari yang awalnya masih canggung, kini mulai terjalin persahabatan yang hangat. Kebersamaan inilah yang membuat kita belajar, bahwa ilmu bukan hanya datang dari ruang kelas, tetapi juga dari interaksi, pengalaman, dan persaudaraan yang lahir dalam momen-momen sederhana.

Allah SWT berfirman dalam potongan ayat Al-Qur’an:

وَاعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًۭا وَلَا تَفَرَّقُوا۟

Artinya: “Dan berpegangteguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai...” (QS. Ali Imran: 103)

Dalam potongan Ayat ini terdapat frasa بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًۭا (ikatan dengan Allah berupa kebersamaan) dapat di ta'wilkam bahwa kebersamaan bukan sekadar bersatu dalam canda tawa, tetapi juga dalam semangat menuntut ilmu dan berjuang bersama di jalan kebaikan yah insyaallah diridhoi Allah SWT. (Selama tidak melanggar syari'at nya)


Ahmad Musthafa Al-Marāghī, dalam Tafsīr Al-Marāghī menjelaskan بِحَبْلِ ٱللَّهِ disini adalah Agama. Maka agama diibaratkan sebagai tali yang kokoh yakni; barang siapa yang berpegang padanya akan selamat dari jatuh ke dalam jurang kebinasaan. Perumpamaannya seperti sekelompok orang yang berada di tempat tinggi, lalu mereka berpegangan pada tali yang kuat agar tidak jatuh. Mereka bersatu memegang tali tersebut, sehingga selamat dari bahaya. Dalam tafsirnya juga dikatakan bahwasanya ayat ini memiliki kaitannya dengan ayat lain tepatnya dalam QS. Al-an'am ayat 23 :

وَأَنَّ هذا صِراطِي مُسْتَقِيماً فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

Artinya: Dan sesungguhnya inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya....

Jadi, “tali Allah” dalam ayat ini adalah jalannya yang lurus, sedangkan “jalan-jalan yang lain” adalah lawan kata nya dimana di jelaskan seperti bentuk-bentuk perpecahan yang dilarang oleh Allah. Ahmad Musthafa Al-Marāghī dalam tafsirnya memberikan contoh jalan yang lain adalah membuat aliran" atau mazhab" baru.  Okey sekarang kita lihat realita sekarang dimana banyak golongan" atau bahasa anak zaman now circle" an apakah itu termasuk kategori jala-jalan yang lain?

Sebelum kita membahas tentang circle" tadi kita kilas balik sejarah zaman dahulu Bangsa-bangsa Eropa pada era modern menempuh jalan fanatisme kebangsaan, sebagaimana bangsa Arab dahulu melakukannya di masa jahiliyah. Fenomena ini juga menyebar ke sebagian negeri Islam, di mana mereka berusaha membentuk identitas kebangsaan terpisah di antara kaum Muslimin, contohnya:

- Orang Turki menyeru kepada nasionalisme Turki,

- Orang Mesir menyeru kepada nasionalisme Mesir,

- Orang Irak menyeru kepada nasionalisme Irak.

Mereka menyangka bahwa hal tersebut dapat membangkitkan kemajuan negeri. Padahal kenyataannya tidak demikian. Sebuah negeri tidak akan maju kecuali dengan persatuan seluruh penduduknya untuk membangunnya, bukan dengan perpecahan, permusuhan, dan kebencian di antara mereka. Karena Agama (Islam) memerintahkan persatuan seluruh manusia yang hidup di satu negeri, meskipun mereka berbeda agama dan suku. Ia juga memerintahkan untuk berpegang teguh pada tali Allah yang kokoh di antara semua golongan manusia.

So there should be no circle among us students of Sheikh Wasil State University, Kediri, especially in the FUDA Faculty of Al-Quran and Tafsir study program because we hold fast to the Al-Quran.  Wallahu a'lam......

Komentar

Postingan populer dari blog ini

STRUKTUR IBADAH DAN MAKNA IKHLAS" DALAM QS. AL-BAYYINAH (93) : 5

QS. Al-Bayyinah (98) : 5 وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ  ۝٥   wa mâ umirû illâ liya‘budullâha mukhlishîna lahud-dîna ḫunafâ'a wa yuqîmush-shalâta wa yu'tuz-zakâta wa dzâlika dînul-qayyimah Artinya: Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya lagi hanif (istiqamah), melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus (benar). STRUKTUR IBADAH DAN MAKNA IKHLAS DALAM QS. AL-BAYYINAH (93) : 5 Part 01 وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ "Dan mereka tidak diperintahkan kecuali agar menyembah Allah." Imam Az-Zamakhsyarī dalam kitab tafsirnya memaknai ayat tersebut, bahwa seluruh ajaran yang terdapat dalam kitab-kitab samawi bermuara pada satu tujuan utama, yaitu penghambaan murni kepada Allah. Beliau juga menjelaskan bahwa: وما أمروا بما في الكتابين إلا لأجل أن يعبدوا ال...

DARI PERSUASI KE VERIFIKASI: INTEGRASI RETORIKA KLASIK DAN ETIKA KOMUNIKASI DALAM SUDUT PANDANG KOMPARATIF ILMU FILSAFAT DAN AL-QUR'AN

Di kalangan mahasiswa sendiri mungkin beberapa sudah biasa menemui basic yang menjadi ciri khas yaitu: public speaking. Dari asumsi tersebut memang sangat benar, namun saya pikir hal itu lebih sempurna apabila di kombinasikan dengan ilmu retorika. Dikarenakan output dari public speaking sendiri hanya sekedar mengolah dan mengembangkan ketrampilan berbahasa atau komunikasi. Dan arahnya hanya akan tertuju pada pemahaman dari lawan bicara ataupun audiens. Namun apabila ilmu retorika, hal itu berbeda dengan public speaking. Output dari retorika sendiri mengarah ke persuasif atau mengelabuhi dengan cara halus. Jadi sasaran dari retorika yaitu: dari segi kognitif dan juga afektif bukan hanya sekedar pemahaman. Dan bisa disimpulkan ilmu retorika disisni terdapat nilai komunikasi yang lebih dikarenakan hal itu hingga dapat mempengaruhi lawan bicara. Nah apabila kita sudah mengetahui perbandingan dari public speaking dan ilmu retorika, maka dari sini kita dapat menemukan kesimpulan bahwasanya b...