Langsung ke konten utama

DARI PERSUASI KE VERIFIKASI: INTEGRASI RETORIKA KLASIK DAN ETIKA KOMUNIKASI DALAM SUDUT PANDANG KOMPARATIF ILMU FILSAFAT DAN AL-QUR'AN

Di kalangan mahasiswa sendiri mungkin beberapa sudah biasa menemui basic yang menjadi ciri khas yaitu: public speaking. Dari asumsi tersebut memang sangat benar, namun saya pikir hal itu lebih sempurna apabila di kombinasikan dengan ilmu retorika. Dikarenakan output dari public speaking sendiri hanya sekedar mengolah dan mengembangkan ketrampilan berbahasa atau komunikasi. Dan arahnya hanya akan tertuju pada pemahaman dari lawan bicara ataupun audiens. Namun apabila ilmu retorika, hal itu berbeda dengan public speaking. Output dari retorika sendiri mengarah ke persuasif atau mengelabuhi dengan cara halus. Jadi sasaran dari retorika yaitu: dari segi kognitif dan juga afektif bukan hanya sekedar pemahaman. Dan bisa disimpulkan ilmu retorika disisni terdapat nilai komunikasi yang lebih dikarenakan hal itu hingga dapat mempengaruhi lawan bicara. Nah apabila kita sudah mengetahui perbandingan dari public speaking dan ilmu retorika, maka dari sini kita dapat menemukan kesimpulan bahwasanya b...

QS. Ar-Ra'd (13) : 28

 

Oleh: Mohammad Alvin Faizi & Muchammad Yusuf Hidayat

RASIONALISASI PERASAAN KETIKA MEMBACA AL-QUR'AN

Al Qur'an merupakan kitab umat Islam, yang dipahami selama ini sebagai kalamullah dan juga sebagai mukjizat nabi Muhammad yang paling agung, ternyata mengandung suatu hal yang menarik apabila kita mengkaji lebih dalam apa yang terkandung dalam Al Qur'an. Salah satu hal yang menarik yakni adanya hal positif yang bersumber atau yang dirasakan ketika kita membaca Al Qur'an. Bahkan hal tersebut dapat dirasakan pun ketika kita hanya sebatas membaca Al Qur'an. Apalagi sampai mengetahui makna ayat nya atau bahkan sampai kita mentadabburi ayat ayat Al Qur'an. Dan ketika kita membaca Al Qur'an dengan tanpa melibatkan hafalan, itupun juga dapat menimbulkan perasaan bahagia yang menyebabkan tampaknya aura positif dari seseorang setelah membaca Al Qur'an. 

Nah, dari  inilah saya memiliki pendapat, bahwasanya terdapat salah satu hal yang menarik dari hal tersebut. Apalagi perasaan bahagia yang timbul itu, bisa dirasakan seolah olah tanpa sebab. Maka untuk itu saya mencoba menganalisis sumber dari munculnya perasaan bahagia tersebut. Dan ternyata hal itu bisa dijawab dengan ilmiah dengan memakai 2 pendekatan yakni dari pendekatan ilmu umum atau filosofis dan yang kedua dengan pendekatan ilmu agama atau teologis dan religius. 

Jadi tanpa kita sadari, bahwasanya ketika kita membaca Al Qur'an bahkan pun dengan tanpa melibatkan hafalan, sejatinya kita sudah melibatkan fungsi dari 2 unsur, yakni unsur otak dan unsur hati. Nah secara langsung, dan tanpa sepengetahuan kita ketika seseorang membaca Al Qur'an, dari unsur otak dan hatinya ikut berperan, Yang mana dari otak dapat menangkap pengetahuan yang terdapat dalam Al Qur'an yang dinamakan Wahyu. Dan Wahyu di dalam Al Qur'an ini juga mencakup dari berita, kisah-kisah dan juga hukum hukum syari'at. Serta perlu diketahui, Wahyu itu dalam filsafat ilmu juga termasuk dari sumber pengetahuan. Setelah adanya sumber rasionalisme dan empirisme. 

Jadi dalam peran otak ketika seseorang membaca Al-Qur'an, sejatinya ia sudah memfungsikan porsi otak dengan optimal. Apalagi dibantu dengan ketepatan bacaan dengan ketelitian huruf hingga hukum tajwid. Kemudian point yang kedua yakni adanya sumber atau pengaruh dari hati. Seperti halnya apa yang saya jabarkan diatas, ternyata ketika seseorang membaca Al Qur'an setelah itu muncul perasaan bahagia dalam dirinya, secara tanpa sadar hati juga ikut difungsikan dengan optimal. Sehingga hati bisa bekerja semestinya. Dan dalam fungsi hati ketika seseorang membaca Al Qur'an, secara tanpa sadar hati dapat mengaktifkan intuisi spiritual nya atau biasa disebut dengan الذوق (Dzauqw). 

Kemudian hal demikian juga didukung dengan adanya proses dalam hati yang menangkap makna makna eksistensial dalam Al Qur'an, sehingga dari makna terdalam itu akan merasakan kehadiran ilahi ketika seseorang membaca Al Qur'an. Maka dari itu, peran hati ketika seseorang membaca Al Qur'an, ia menjadi backup ataupun sebagai penguat dari peran pikiran yang juga diikutsertakan dalam membaca Al Qur'an. Sehingga apabila diambil contoh ketika seseorang mencicipi masakan, maka fungsi otak akan mencari komposisi yang pas. Lalu apabila menurut otak sudah memenuhi komposisi, maka dengan dicicipinya makanan itu muncul suatu kepuasan terhadap cita rasa yang berasal dari makanan yang dimasak.

Hal tersebut bersumber dari hati. Begitupun ketika seseorang membaca Al Qur'an. Disamping peran otak menangkap pengetahuan yang bersumber dari ayat ayat Al Qur'an, baik itu dari berita berita, kisah maupun hukum hukum syari'at, kemudian hari sebagai penguat untuk memahami makna makna eksistensial yang ada pada Al Qur'an. Kemudian dari sini dapat disimpulkan, peran otak dan hati ketika seseorang membaca Al Qur'an muncul sebuah kolaborasi diantara keduanya yang terarah dan sinkron. 

Nah setelah kita memahami pemaparan diatas dari segi ilmiah, maka dengan itu saya berusaha memberikan tambahan landasan sebagai penguat yang bersumber dari aspek religius dan teologis. Pada aspek tersebut saya mengacu terhadap ayat Al Qur'an yang berbunyi

 الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا

 بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ. 

Artinya: orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.(QS.Ar-Ra'd:28)

Pada ayat tersebut saya jadikan landasan penguat dari segi perspektif teologis atau religius, dikarenakan pada ayat tersebut terdapat suatu penafsiran yang ternyata masih relevan dengan pemaparan diatas yang berasal dari perspektif ilmiah. Dan dari penafsiran tersebut saya mengambil redaksi dari tafsir qurthubi sebagai berikut:

 (وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ) أَيْ تَسْكُنُ وَتَسْتَأْنِسُ بِتَوْحِيدِ اللَّهِ فَتَطْمَئِنُّ، قَالَ: أَيْ وَهُمْ تَطْمَئِنُّ قلوبهم على الدوام بذكر الله بألسنتهم، قاله قَتَادَةُ: وَقَالَ مُجَاهِدٌ وَقَتَادَةُ وَغَيْرُهُمَا: بِالْقُرْآنِ. وَقَالَ سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ: بِأَمْرِهِ. مُقَاتِلٌ: بِوَعْدِهِ. ابْنُ عَبَّاسٍ: بِالْحَلِفِ بِاسْمِهِ، أَوْ تَطْمَئِنُّ بِذِكْرِ فَضْلِهِ وَإِنْعَامِهِ، كَمَا تَوْجَلُ بِذِكْرِ عَدْلِهِ وَانْتِقَامِهِ وَقَضَائِهِ. 

[القرطبي، شمس الدين ,تفسير القرطبي ,9/315] 

Para mufasir menjelaskan bahwa dzikir pada ayat tersebut juga mencakup membaca Al-Qur’an, mengingat janji dan perintah Allah, serta merenungi karunia-Nya. Dengan demikian, reaksi emosional berupa ketenangan, rasa bahagia, dan kedamaian batin yang dirasakan ketika membaca Al-Qur’an bukanlah sesuatu yang kebetulan, melainkan konsekuensi alami dari interaksi antara wahyu ilahi dengan dimensi batin manusia, yang secara fitrah memang diciptakan untuk merespons kebenaran dan cahaya ilahi.

Jadi bisa kita ambil suatu kesimpulan, apabila mengacu terhadap pendekatan teologis melalui tafsir qurthubi yang dipaparkan diatas, maka kita akan memahami bahwasanya ketika seseorang membaca Al Qur'an maka ada sebuah hubungan sebab akibat atau yang disebut dengan hubungan kausalitas. Seseorang yang sedang membaca Al Qur'an tanpa melalui penelitian pun, apabila mengacu pada penjelasan tafsir qurthubi diatas maka akan dapat memunculkan perasaan bahagia dari reaksi hati yang menangkap makna ayat mengenai perintah perintah, perjanjian Allah ataupun berita berita hari akhir. Maka dari cara kerja otak dan hati ketika seseorang membaca Al Qur'an, ada sebuah kerja sama yang serasi antara keduanya sehingga menghasilkan koherensi batin antara makna rasional dan makna eksistensial. 

Sehingga dari kerja sama keduanya yang saling beriringan itu, akan memunculkan integrasi epistemik antara akal,hati dan Wahyu. Untuk itu saya kira perlunya kita menganalisis hal demikian. Dikarenakan ternyata hipotesis mengenai fenomena seseorang yang membaca Al Qur'an akan merasakan perasaan bahagia yang datangnya nya tanpa sebab itu, dapat terjawab dengan penelitian yang dapat mengkolaborasikan 2 pendekatan yakni dari pendekatan ilmu umum atau filosofis dan dari pendekatan ilmu agama  atau teologis.

Dari analisis tersebut, hal itu cukup menjawab bahwasanya ternyata hubungan antara ilmu agama dan ilmu umum, ternyata dapat berjalan beriringan dengan tanpa menafikan unsur transenden yang terdapat pada agama Islam. ada sebuah closing statement untuk mengakhiri penulisan ini yakni: 

"Psikologi itu mahal makanya Allah menurunkan Al Qur'an"

Wallahu a'lam..........

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makna “Bi Ḥablillāh” sebagai Prinsip Persatuan dalam Islam : Kajian Tafsir QS. Ali-Imran (3) : 103

Di UIN Syech Wasil Kediri lebih tepatnya pada fakultas FUDA (Fakultas Ushuluddin dan Dakwah) prodi IAT (Ilmu Al Qur'an dan Tafsir) telah melaksanakan TAFASIR atau biasa disebut PBAK Prodi. PBAK merupakan awal perjalanan kita di kampus yang notabene beragama islam. Suasana penuh tawa, canda, dan keakraban membuat dua hari terasa begitu cepat. Dari yang awalnya masih canggung, kini mulai terjalin persahabatan yang hangat. Kebersamaan inilah yang membuat kita belajar, bahwa ilmu bukan hanya datang dari ruang kelas, tetapi juga dari interaksi, pengalaman, dan persaudaraan yang lahir dalam momen-momen sederhana. Allah SWT berfirman dalam potongan ayat Al-Qur’an: وَاعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًۭا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ Artinya: “Dan berpegangteguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai...” (QS. Ali Imran: 103) Dalam potongan Ayat ini terdapat frasa بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًۭا (ikatan dengan Allah berupa kebersamaan) dapat di ta'wilkam bahwa ...

STRUKTUR IBADAH DAN MAKNA IKHLAS" DALAM QS. AL-BAYYINAH (93) : 5

QS. Al-Bayyinah (98) : 5 وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ  ۝٥   wa mâ umirû illâ liya‘budullâha mukhlishîna lahud-dîna ḫunafâ'a wa yuqîmush-shalâta wa yu'tuz-zakâta wa dzâlika dînul-qayyimah Artinya: Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya lagi hanif (istiqamah), melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus (benar). STRUKTUR IBADAH DAN MAKNA IKHLAS DALAM QS. AL-BAYYINAH (93) : 5 Part 01 وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ "Dan mereka tidak diperintahkan kecuali agar menyembah Allah." Imam Az-Zamakhsyarī dalam kitab tafsirnya memaknai ayat tersebut, bahwa seluruh ajaran yang terdapat dalam kitab-kitab samawi bermuara pada satu tujuan utama, yaitu penghambaan murni kepada Allah. Beliau juga menjelaskan bahwa: وما أمروا بما في الكتابين إلا لأجل أن يعبدوا ال...

DARI PERSUASI KE VERIFIKASI: INTEGRASI RETORIKA KLASIK DAN ETIKA KOMUNIKASI DALAM SUDUT PANDANG KOMPARATIF ILMU FILSAFAT DAN AL-QUR'AN

Di kalangan mahasiswa sendiri mungkin beberapa sudah biasa menemui basic yang menjadi ciri khas yaitu: public speaking. Dari asumsi tersebut memang sangat benar, namun saya pikir hal itu lebih sempurna apabila di kombinasikan dengan ilmu retorika. Dikarenakan output dari public speaking sendiri hanya sekedar mengolah dan mengembangkan ketrampilan berbahasa atau komunikasi. Dan arahnya hanya akan tertuju pada pemahaman dari lawan bicara ataupun audiens. Namun apabila ilmu retorika, hal itu berbeda dengan public speaking. Output dari retorika sendiri mengarah ke persuasif atau mengelabuhi dengan cara halus. Jadi sasaran dari retorika yaitu: dari segi kognitif dan juga afektif bukan hanya sekedar pemahaman. Dan bisa disimpulkan ilmu retorika disisni terdapat nilai komunikasi yang lebih dikarenakan hal itu hingga dapat mempengaruhi lawan bicara. Nah apabila kita sudah mengetahui perbandingan dari public speaking dan ilmu retorika, maka dari sini kita dapat menemukan kesimpulan bahwasanya b...