Tingkatan Derajat Manusia
dalam Perspektif Ilmu dan Keimanan
Allah SWT menjelaskan tentang kemuliaan derajat manusia dalam potongan firman-Nya pada QS. Al-Mujādalah ayat 11:
يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَـٰتٍۢ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌۭ
“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Ayat ini menegaskan bahwa derajat seseorang diangkat oleh Allah berdasarkan dua aspek utama, yaitu keimanan dan ilmu. Dari ayat tersebut, dapat dipahami bahwa keimanan berimplikasi pada kemuliaan di akhirat, sedangkan ilmu memberikan pengaruh besar terhadap kedudukan di dunia. Untuk memudahkan pemahaman dalam ayat tersebut, kondisi manusia dapat dibagi ke dalam 4 kategori sebagai berikut:
1. Orang yang Beriman dan Berilmu
(المؤمن والعالم)
Seseorang yang memiliki keimanan sekaligus ilmu akan diangkat derajatnya di dunia dan di akhirat. Ilmunya memberi manfaat bagi kehidupan, sementara imannya menjadi bekal keselamatan di akhirat.
Contoh: Para sahabat Nabi Muhammad yang dikenal sebagai pribadi berilmu, berakhlak, dan bertakwa. Serta para tokoh-tokoh agama di zaman sekarang.
2. Orang yang Beriman tetapi Tidak Berilmu
(المؤمن غير العالم)
Orang yang beriman meskipun tidak memiliki ilmu yang luas tetap mendapatkan kemuliaan dari Allah, namun lebih dominan di sisi akhirat. Dimana, dalam Kehidupan dunianya mungkin sederhana, tetapi keikhlasan dan ketaatan menjadi nilai utama di hadapan Allah.
Contoh: Masyarakat awam yang istiqamah mengikuti pengajian, manaqiban, thariqahan, serta menjaga ibadah dengan sungguh-sungguh. Kehidupan dunia mereka mungkin biasa saja, namun keimanan mereka menjadi kekuatan utama.
3. Orang yang Berilmu tetapi Tidak Beriman
(العالم غير المؤمن)
Seseorang yang memiliki kecerdasan dan ilmu akan mendapatkan kemuliaan di dunia melalui manfaat dari ilmunya, meskipun ia tidak beriman. Adapun keadaan akhiratnya, hanya Allah yang Maha Mengetahui.
Contoh: Thomas Alva Edison, seorang ilmuwan yang penemuannya sangat bermanfaat bagi umat manusia hingga hari ini. Derajatnya di dunia diangkat melalui ilmu dan kontribusinya. Namun, kemuliaan akhirat tidak dapat diraih tanpa keimanan kepada Allah.
Seandainya seseorang seperti beliau beriman kepada Allah, tentu kedudukannya akan jauh lebih tinggi karena ilmunya membawa maslahat besar bagi kehidupan manusia.
4. Orang yang Tidak Beriman dan Tidak Berilmu
(ولا رابع فيه)
Golongan terakhir adalah mereka yang tidak memiliki keimanan dan juga tidak berilmu. Golongan inilah yang paling merugi, karena tidak memiliki bekal baik untuk dunia maupun akhirat. Semoga kita dijauhkan dari kondisi ini. Na‘ūdzu billāh.
Dari pemaparan tentang interpretasi diatas, Ayat ini menjadi pengingat bagi kita bahwa keimanan harus berjalan seiring dengan semangat menuntut ilmu. Dengan iman, kita selamat di akhirat; dengan ilmu, kita bermanfaat di dunia. Semoga Allah SWT mengangkat derajat kita melalui keimanan dan ilmu yang bermanfaat, baik di dunia maupun di akhirat. Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Wallāhu a‘lam.
Komentar
Posting Komentar