Langsung ke konten utama

STRUKTUR IBADAH DAN MAKNA IKHLAS" DALAM QS. AL-BAYYINAH (93) : 5

QS. Al-Bayyinah (98) : 5 وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ  ۝٥   wa mâ umirû illâ liya‘budullâha mukhlishîna lahud-dîna ḫunafâ'a wa yuqîmush-shalâta wa yu'tuz-zakâta wa dzâlika dînul-qayyimah Artinya: Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya lagi hanif (istiqamah), melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus (benar). STRUKTUR IBADAH DAN MAKNA IKHLAS DALAM QS. AL-BAYYINAH (93) : 5 Part 01 وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ "Dan mereka tidak diperintahkan kecuali agar menyembah Allah." Imam Az-Zamakhsyarī dalam kitab tafsirnya memaknai ayat tersebut, bahwa seluruh ajaran yang terdapat dalam kitab-kitab samawi bermuara pada satu tujuan utama, yaitu penghambaan murni kepada Allah. Beliau juga menjelaskan bahwa: وما أمروا بما في الكتابين إلا لأجل أن يعبدوا ال...

STRUKTUR IBADAH DAN MAKNA IKHLAS" DALAM QS. AL-BAYYINAH (93) : 5

QS. Al-Bayyinah (98) : 5

وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ ۝٥ 
wa mâ umirû illâ liya‘budullâha mukhlishîna lahud-dîna ḫunafâ'a wa yuqîmush-shalâta wa yu'tuz-zakâta wa dzâlika dînul-qayyimah
Artinya: Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya lagi hanif (istiqamah), melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus (benar).

STRUKTUR IBADAH DAN MAKNA IKHLAS DALAM QS. AL-BAYYINAH (93) : 5

Part 01

وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ
"Dan mereka tidak diperintahkan kecuali agar menyembah Allah."
Imam Az-Zamakhsyarī dalam kitab tafsirnya memaknai ayat tersebut, bahwa seluruh ajaran yang terdapat dalam kitab-kitab samawi bermuara pada satu tujuan utama, yaitu penghambaan murni kepada Allah. Beliau juga menjelaskan bahwa:
وما أمروا بما في الكتابين إلا لأجل أن يعبدوا الله على هذه الصفة
[الزمخشري، تفسير الزمخشري = الكشاف عن حقائق غوامض التنزيل، ٧٨٢/٤]
Perintah tersebut bukan sekadar tuntutan ritual, tetapi arahan agar ibadah dilakukan dengan cara dan sifat yang benar sesuai tuntunan-Nya. Hal tersebut juga diperkuat oleh Ibnu Mas'ud, yakni :
 وقرأ ابن مسعود: إلا أن يعبدوا، بمعنى: بأن يعبدوا.
[الزمخشري، تفسير الزمخشري = الكشاف عن حقائق غوامض التنزيل، ٧٨٢/٤]
Membaca illā an ya‘budū, bermakna bi-an ya‘budū, yakni penegasan bahwa inti perintah itu adalah agar manusia benar-benar merealisasikan ibadah sebagai tujuan pokok dari seluruh ajaran, bukan sekadar formalitas, tetapi penghambaan yang sadar, tulus, dan terarah. Oleh karena itu sebagai umat Islam, aktivitas yang paling penting ata hendaknya kita jadikan skala prioritas utama adalah beribadah kepada tuhan. 

Selain itu, ketika kita melihat dari sudut pandang pengi'raban , frasa liya'budu memiliki huruf lam yang memiliki fungsi sebagai ta'lil atau bermakna agar. Serta lafdzul jalallah setelahnya menjabat sebagai objek atau maf'ul bih.  Dalam ayat tersebut, tepatnya setelah frasa yang sudah dijelaskan diatas, terdapat lafadz مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ (mengikhlaskan kepadanya dalam agama yang lurus) yang berkedudukan sebagai hall (keterangan) dari frasa ya'budu. Sehingga, ketika seseorang dalam melaksanakan ibadah hendaknya menanamkan مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ.

Dimana, potongan ayat tersebut mengandung sikap ikhlas yang termaktub pada salah satu surat dalam Al-Qur'an, yakni surat Al-Ikhlas. Surat tersebut diawali dengan ayat : Qul Huwa Allāhu Aḥad yang menunjukkan keesaan Allah. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Ibnu al-Atsīr, yakni: 
قَالَ ابْنُ الأَثير: سُمِّيَتْ بِذَلِكَ لأَنها خَالِصَةٌ فِي صِفَةِ اللَّهِ تَعَالَى وَتَقَدَّسَ، أَو لأَن اللَّافِظَ بِهَا قَدْ أَخْلَصَ التوحيدَ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَكَلِمَةُ الإِخلاص كَلِمَةُ التَّوْحِيدِ،[ابن منظور، لسان العرب، ٢٦/٧]
Surah itu dinamakan Al-ikhlas, karena isinya murni tentang sifat Allah Ta‘ala Yang Mahasuci, atau karena orang yang membacanya telah memurnikan tauhidnya hanya untuk Allah ‘Azza wa Jalla. Kata ikhlāṣ adalah kata tauhid.

Ikhlas sendiri berakar dari frasa خَلَص yang memiliki makna sesuatu itu tadinya terjerat atau terikat, lalu selamat dan terbebas, atau mudah dipahami sebagai suatu yang murni. Kemudian ditambahkan Hamzah qath'i  sehingga menjadi أخلص yang memiliki fungsi litta'diyah atau mengubah kata kerja yang intrasitif menjadi transsitif. Akhirnya memiliki sebuah makna yakni, memurnikan. Tetapi, dalam ayat tersebut memiliki bentuk مُخْلِصِيْنَ yang merupakan isim fa'il dari lafadz أخلص yang akhirnya maknanya menjadi memurnikan. أخلص merupakan fi'il muta'addi, yakni fi'il yang membutuhkan objek atau maf'ul. Dimana objek dari frasa مُخْلِصِيْنَ terletak pada setelahnya, yakni  الدِّيْنَ. Oleh karena itu, selain memberikan seruan untuk beribadah, ayat tersebut juga memberikan pepiling terhadap kita semua, bahwasanya sikap ketika beribadah, baik sholat, membaca Al-Qur'an, berdzikir, dll, hendaknya menanamkan sikap Ikhlas dalam melaksanakan hal tersebut. 

Berdasarkan uraian tersebut, memunculkan suatu hipotesis bahwa ikhlas dalam QS. Al-Bayyinah ayat 5 tidak hanya berfungsi sebagai etika spiritual ibadah, tetapi sebagai parameter ontologis keabsahan agama itu sendiri. Artinya, agama (ad-dīn) dalam perspektif ayat ini tidak diukur dari banyaknya ritual yang dilakukan, melainkan dari sejauh mana ritual tersebut dimurnikan orientasinya hanya kepada Allah. Dengan demikian, dīn al-qayyimah bukan semata sistem hukum dan ibadah, tetapi kondisi kesadaran tauhid yang terejawantahkan melalui ibadah yang ikhlas, konsisten, dan terarah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makna “Bi Ḥablillāh” sebagai Prinsip Persatuan dalam Islam : Kajian Tafsir QS. Ali-Imran (3) : 103

Di UIN Syech Wasil Kediri lebih tepatnya pada fakultas FUDA (Fakultas Ushuluddin dan Dakwah) prodi IAT (Ilmu Al Qur'an dan Tafsir) telah melaksanakan TAFASIR atau biasa disebut PBAK Prodi. PBAK merupakan awal perjalanan kita di kampus yang notabene beragama islam. Suasana penuh tawa, canda, dan keakraban membuat dua hari terasa begitu cepat. Dari yang awalnya masih canggung, kini mulai terjalin persahabatan yang hangat. Kebersamaan inilah yang membuat kita belajar, bahwa ilmu bukan hanya datang dari ruang kelas, tetapi juga dari interaksi, pengalaman, dan persaudaraan yang lahir dalam momen-momen sederhana. Allah SWT berfirman dalam potongan ayat Al-Qur’an: وَاعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًۭا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ Artinya: “Dan berpegangteguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai...” (QS. Ali Imran: 103) Dalam potongan Ayat ini terdapat frasa بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًۭا (ikatan dengan Allah berupa kebersamaan) dapat di ta'wilkam bahwa ...

Makna “Bi Ḥablillāh” sebagai Prinsip Persatuan dalam Islam : Kajian Tafsir QS. Ali-Imran (3) : 103

 Sebelumnya telah diuraikan pemaknaan frasa bi hablillah menurut para ulama' yang diambil dari penafsiran Al-Baghowi. Serta penafsiran Al-Maraghi dalam kitab tafsirnya. Dimana kedua kitab tafsir tersebut menjelaskan bahwasanya bi hablillah merupakan ikatan Allah yang di maknai sebagai bentuk iman seorang hamba kepada sang Khaliq . Iman sendiri adalah suatu hal yang menjadi rukun bagi umat yang beragama Islam. Implementasi iman dalam QS. Ali-Imran ayat 103 dimaknai dalam hadits yang menunjukkan bentuk iman bisa melalui bi hablillah . (Lihat bi habilillah part 2) Iman seorang hamba disini itu bisa berupa seberapa kuat dia berpegang teguh pada _bi habilillah. Bi habilillah juga memiliki nilai implementasi terhadap konteks sosial berupa persaudaraan, kemasyarakatan, kekeluargaan, hingga lingkup sosial pertemanan. QS. Ali-Imran ayat 103 di awali dengan frasa wa'tashimu yang berarti berpegang teguhlah!. Dimana frasa tersebut berupa fi'il amr yang menunjukkan makna perintah dan p...