DARI PERSUASI KE VERIFIKASI: INTEGRASI RETORIKA KLASIK DAN ETIKA KOMUNIKASI DALAM SUDUT PANDANG KOMPARATIF ILMU FILSAFAT DAN AL-QUR'AN
Di kalangan mahasiswa sendiri mungkin beberapa sudah
biasa menemui basic yang menjadi ciri khas yaitu: public speaking. Dari asumsi
tersebut memang sangat benar, namun saya pikir hal itu lebih sempurna apabila
di kombinasikan dengan ilmu retorika. Dikarenakan output dari public speaking sendiri
hanya sekedar mengolah dan mengembangkan ketrampilan berbahasa atau komunikasi.
Dan arahnya hanya akan tertuju pada pemahaman dari lawan bicara ataupun
audiens. Namun apabila ilmu retorika, hal itu berbeda dengan public speaking.
Output dari retorika sendiri mengarah ke persuasif atau mengelabuhi dengan cara
halus. Jadi sasaran dari retorika yaitu: dari segi kognitif dan juga afektif
bukan hanya sekedar pemahaman. Dan bisa disimpulkan ilmu retorika disisni
terdapat nilai komunikasi yang lebih dikarenakan hal itu hingga dapat
mempengaruhi lawan bicara. Nah apabila kita sudah mengetahui perbandingan dari
public speaking dan ilmu retorika, maka dari sini kita dapat menemukan
kesimpulan bahwasanya bentuk kiat kiat yang terdapat pada diri kaum civitas
akademika, yang dimaksudkan disini yaitu kaum mahasiswa, sebuah basic public
speaking yang di kembangkan, dilanjut dengan penguasaan pada ilmu retorika.
Maka dengan sebuah kiat kiat tersebut, jati diri mahasiswa akan lebih utuh dan
juga lebih variatif.
Kemudian tuliasan ini bertujuan untuk memberikan studi
komporatif terhadap ilmu retorika dari dari perspektif umum dan perspektif ilmu
Al-Qur’an serta hadis nabi. Dengan demikian ppembaca akan mendapatkan wawasan
lebih dari urgensi mempelajari ilmu retorika. Namun juga dengan tidak
meninggalkan unsur terpenting dari sumber literatur Al-Qur’an dan hadis nabi
sebagai bentuk konklusi dari tulisan ini.
Kita mungkin sering dengar slogan “bicara juga ada seninya”. Nah hal itu ternyata juga terdapat dalam retorika, yang mana kita akan membahasnya disini. Jadi retorika mengikuti pendapat dari Aristoteles yang saya dapatkan dari suatu jurnal yaitu: retorika Adalah ilmu yang mengajarkan orang tentang ketrampilan, persuasif yang objektif dari suatu hal (Suisyanto, 2020, hlm 2). Jadi seperti yang sudah disinggung dalam pendahuluan diatas, jadi ilmu retorika ialah ilmu yang mengajarkan ketrampilan komunikasi, yang bersifat persuasive namun juga dengan tingkatan objektif. Jadi yang dimaksud disini, pemahaman yang terdapat pada audiens atau lawan bicara melalui retorika yakni, yang bersifat persuasive atau cara mengelabuhi dengan halus. Tetapi hal tersebut juga didasarkan dengan objektivitas, yang mana terdapat sinkronisai antara pembicara dengan audiens. Jadi pembicara dalm berargumen dapat menekankan pemahaman dan juga lawan bicaranya mendapat pemahaman yang kokoh dan juga presisi. Jadi bisa disimpulkan bahwasanya retorika yaitu termasuk kedalam seni mengelola bahasa. Dikarenakan fokus yanag terdapat dalam retorika ini tidak hanya dari segi pemahaman, melalui gaya komunikasi serta dari respon lawan bicara itu menangkap pembicaraan dengan memfokuskan raut wajah serta Gerak mata yang terlihat, terhadap orang yang menjadi objek pembicaraan.
Kemudian kita akan mendalami terkait Sejarah ilmu retorika guna mengetahui kronologi ataupun alur kemunculan dari ilmu retorika itu sendiri. Namun disini saya akan mengelompokkan terhadap beberapa periode. Jadi, retorika pada periode awal sudah mulai berkembang di Yunani pada abad ke 5 sampai 4 sebelum masehi. dalam perkembangan awal ini, retorika memfokuskan terhadap persuasive Masyarakat perihal hegemoni pemerintahan. Dan pada era awal ini, terdapat beberapa tokoh retorika antara lain: Solon yang hidup pada (640-560) SM, pesistratos (600-527) SM dan Thenutokles yang hidup pada tahun (527-460) SM. pada era ini juga muncul tokoh retorika yang ahli pidato Bernama Perikles (500-429) SM. ia saking ahlinya, sampai para pengagumnya mengatakan “dewi dewi seni yang berbicara yang memiliki daya Tarik memukau bertakhta di atas lidahnya.” Dengan munculnya Perikles, para orator lain bermunculan juga. Kemudian di era ini mulai tersusun ilmu retorika yang pertama kali disusun di daerah koloni Yunani.
Kemudian
periode selanjutnya terjadi di romawi pada masa (300-130) SM. pada era ini
retorika lebih berkembang dengan adanya pengajaran retorika di sekolah sekolah.
Sehingga di periode ini muncul tokoh retorika terkenal salah satunya Bernama
Tullius Cicero. Selanjutnya pada periode era pertengahan disini retorika mulai
mengalami kemunduran. Disebabkan dengan adanya larangan dari para tokoh gereja.
Yang mana mereka menganggap retorika ini sebagai kesenian jahiliyah. Kemudian
setelah retorika mengalami kemunduran, di periode selanjtnya retorika mulai
berkembang lagi. Lebih tepatnya di era zaman renainsance pada abad ke 14. Pada
era ini para ahli pidato mulai menulis, menerbitkan bahkan mengadakan debat di
universitas ke universitas yang lain, atau dari satu kota ke kota yang lain. Di
periode selanjutnya, yakni periode terakhir yang terjadi di era zaman modern.
Di era ini retorika dikembangkan dengan tujuan menjembatani dari era Yunani dan
romawi. Namun dengan di korelasikan terhadap bidang keilmuan lain yaitu ilmu
psikis. Dan di era ini retorika di dasarkan terhadap pesan secara efektif yang
tertulis, namun juga tidak mengabaikan dari kemampuan secara lisan yang baik.
Maka dari itu, ilmu retorika mengalami perkembangan yang cukup
Panjang. Yang berawal dari era Yunani kuno, yang mana di sini hanya terbentuk
ide-ide atau kerengka retorika secara sederhana. Kemudian hingga di era modern
retorika sudah terbentuk menjadi produk ilmu yang sistematis dan kompleks.
Dengan adanya 3 aliran yang muncul diantaranya: pertama. Aliran
epitemologis yang membahas pendekatan mengenai asal usul, metode daan
batas-batas pengetahuan manusia. Kedua, Aliran Belles littres dengan
pendekatan yang mengutamakan keindahan, segi-segi estetis pesan dan kadang
kadang mengesampingkan isi informasi. Dan yang ketiga yaitu aliran elukosionis
yang berfokus pada pendekatan metodologis, petunjuk praktis dari retorika.
Jadi
secara singkat, ilmu retorika mengalami eskalasi panjang dari segi historis
saat mulai berkembangnya, hingga di zaman sekarang retorika sudah terbentuk
secara kompleks. Namun disini kita akan mendalami ilmu retorika dari perspektif
era modern, yang mana pada era modern ini retorikaa dipahami sebagai tekhnik
persuasive. Jadi retorika mengajarkan sebuah tekhnik pembujuk rayuan dengan
argumen yang objektiv. Dalam artian objektiv disini ialah, adanya kesepakatan
yang terdapat pada pembicara dan juga lawan bicaranya. Dengan upaya dari
pembicara meliputi cara dia menyampaikan
dan juga cara ia untuk meyakinkan. Maka dari itu dalam retorika terdapat 3
unsur idealis utama yaitu: etos atau yang dapat diartikan sebagai
komptensi, kedua patos terkait kejiwaan mencakup kognitif dan afektif,
ketiga logos atau yang diartikan sebagai kemampuan untuk meyakinkan.
Dari
unsur idealis utama ilmu retorika, maka penutur atau pembicara harus terlebih
dahulu mempunyai kredibilitas. Dikarenakan ha itu menjadi modal pertama
seseorang menerima kepercayaan terhadap lawan bicara. Namun, kredibilitas
disini bisa dimaknai juga terhadap apa yang menjadi penyampaian atau argumen
pembicara. Maka dengan modal awal yakni mengenai kredibilitas yang ada pada
diri pembicara dan juga mengenai pembahasan yang ia bawakan, selanjutnya nilai
argumen yang ditangkap oleh lawan bicara akan lebih berbobot dan menjadi
semakin utuh. Namun hal itu juga harus di back up dengan 2 unsur berikutnya
yaitu: patos guna menargetkan penyampaian terhadap unsur kognitif atau
kecerdasan intelektual dan juga unsur afektif atau kecerdasan emosional. Jadi
dalam pengaplikasian nya, nilai persuasive yang ditonjolkan sangat berkaitan
dengan unsur idealis kedua ini. Dikarenkan lawan bicara terpengaruhi ataupun
terdorong dengan penyampaian melalui fikiran dan perasaan. Maka dari tiu, dari
unsur idealis kedua ini sangat menentukan arah dari retorika yakni sebagai
persuasive. Kemudian unsur idealis ketiga, guna melengkapi unsur unsur
sebelumnya yaitu logos atau kemmpuan dalam penyampaian. Jadi ibarat 3 unsur
idealis diatas itu sebuah kerangka, dengan point yang utama yakni etos
yang mana hal itu ibarat sebuah branding awal ketika seseorang memulai
penyampaian. Kemudian selanjutnya di lengkapi dengan sasaran yang di utamakan
dalam penyampaian melalui unsur patos, dengan fokus ke segi fikiran dan
perasaan. Nah setelah 2 unsur diatas sudah terlengkapi, kemudian tahapan
selanjutnya yakni pemaksimalan dalam eksekusi, dalam tanda kutip harus
mendasarkan terhadap unsur idealis terakhir yaitu logos dengan mendasarkan
nilai kemampuan seseorang dalam penyampaian. Nah maka dari itu 3 unsur idealis
inilah yang menentukan arah dari retorika.
Apabila retorika dalam perspektif umum dipahami sebagai seni mengelola bahasa untuk mempengaruhi audiens, maka dalam perspektif wahyu, retorika tidak berhenti pada aspek persuasi semata, tetapi bergerak menuju verifikasi dan tanggung jawab moral. Di sinilah letak integrasi antara wahyu dan ilmu umum. Retorika bukan sekadar kemampuan memikat, melainkan kemampuan menyampaikan kebenaran secara tepat, bijak, dan terukur.
Dalam Al-Qur'an, prinsip verifikasi ditegaskan
secara eksplisit dalam QS. Al-Hujurāt ayat 6 yang berbunyi:
فَتَبَيَّنُوا أَنْ
تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Dalam ayat ini terdapat perintah untuk فَتَبَيَّنُوا tabayyun terhadap setiap informasi. Ayat ini menunjukkan bahwa komunikasi tidak boleh dibangun di atas asumsi, manipulasi, atau kepentingan sepihak. Setiap pesan harus melalui proses klarifikasi dan pengujian kebenaran. Dengan demikian, retorika dalam Islam memiliki fondasi epistemologis: berbicara harus berbasis data, fakta, dan kejujuran.
Lebih lanjut, dalam QS. An-Naḥl ayat 125 yang
berbunyi:
اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ
وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ
رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ
بِالْمُهْتَدِيْنَ
Artinya: "Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk."
Ayat tersebut menjelaskan metode komunikasi yang ideal: bil hikmah, bil mau‘izhah hasanah, dan jadal (debat) bil Hasan (terbaik). Dimana Hikmah mencerminkan dimensi rasional (logos), mau‘izhah hasanah menyentuh aspek emosional (pathos), dan cara debat yang terbaik menunjukkan kredibilitas moral pembicara (ethos). Jika dikaji lebih dalam, struktur ini justru melampaui formulasi retorika klasik yang dirumuskan oleh Aristoteles. Artinya, wahyu tidak menafikan retorika, tetapi menyempurnakannya dengan nilai etika dan spiritualitas.
Selain itu, Al-Qur’an juga menekankan konsep
qaulan sadīda (perkataan yang benar dan tepat) uang tertera dalam QS. Al-Aḥzāb
ayat 70:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ
وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.
Dalam ayat ini, mengandung prinsip untuk menegaskan presisi dan integritas adalah bentuk ruh komunikasi. Seperti contohnya, Seorang mahasiswa atau civitas akademika tidak cukup hanya mampu berbicara menarik, tetapi harus mampu menyampaikan kebenaran secara lurus dan bertanggung jawab. Inilah pergeseran paradigma dari retorika yang berorientasi pengaruh menuju retorika yang berorientasi kebenaran. Bahkan diceritakan dalam Al Qur'an, ketika menghadapi lawan yang keras seperti Fir‘aun, Allah memerintahkan Nabi Musa untuk berbicara dengan kata-kata yang lemah lembut yang tertera dalam QS. Ṭāhā: 44:
فَقُوْلَا لَهٗ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهٗ
يَتَذَكَّرُ اَوْ يَخْشٰى
Artinya: Berbicaralah kamu berdua (Musa dan Harun) kepadanya (Fir‘aun) dengan perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.”
Perintah yang tertera dalam kisah ayat Ini menunjukkan, bahwa kekuatan retorika bukan terletak pada tekanan suara atau dominasi argumentasi, melainkan pada kelembutan, pengendalian diri, dan strategi komunikasi yang menyentuh hati.
Dengan demikian, integrasi interkoneksi antara
wahyu dan ilmu umum menghasilkan satu formulasi baru: retorika yang tidak
manipulatif, tetapi edukatif; tidak sekadar persuasif, tetapi juga verifikatif;
tidak hanya menyentuh pikiran, tetapi juga membangun karakter. Di sinilah
mahasiswa sebagai agen intelektual dituntut untuk mengembangkan public speaking
yang berakar pada etika Qur’ani, sehingga komunikasi yang dibangun tidak hanya
efektif, tetapi juga bernilai ibadah dan membawa maslahat.
Komentar
Posting Komentar