Langsung ke konten utama

DARI PERSUASI KE VERIFIKASI: INTEGRASI RETORIKA KLASIK DAN ETIKA KOMUNIKASI DALAM SUDUT PANDANG KOMPARATIF ILMU FILSAFAT DAN AL-QUR'AN

Di kalangan mahasiswa sendiri mungkin beberapa sudah biasa menemui basic yang menjadi ciri khas yaitu: public speaking. Dari asumsi tersebut memang sangat benar, namun saya pikir hal itu lebih sempurna apabila di kombinasikan dengan ilmu retorika. Dikarenakan output dari public speaking sendiri hanya sekedar mengolah dan mengembangkan ketrampilan berbahasa atau komunikasi. Dan arahnya hanya akan tertuju pada pemahaman dari lawan bicara ataupun audiens. Namun apabila ilmu retorika, hal itu berbeda dengan public speaking. Output dari retorika sendiri mengarah ke persuasif atau mengelabuhi dengan cara halus. Jadi sasaran dari retorika yaitu: dari segi kognitif dan juga afektif bukan hanya sekedar pemahaman. Dan bisa disimpulkan ilmu retorika disisni terdapat nilai komunikasi yang lebih dikarenakan hal itu hingga dapat mempengaruhi lawan bicara. Nah apabila kita sudah mengetahui perbandingan dari public speaking dan ilmu retorika, maka dari sini kita dapat menemukan kesimpulan bahwasanya b...

DARI PERSUASI KE VERIFIKASI: INTEGRASI RETORIKA KLASIK DAN ETIKA KOMUNIKASI DALAM SUDUT PANDANG KOMPARATIF ILMU FILSAFAT DAN AL-QUR'AN

Di kalangan mahasiswa sendiri mungkin beberapa sudah biasa menemui basic yang menjadi ciri khas yaitu: public speaking. Dari asumsi tersebut memang sangat benar, namun saya pikir hal itu lebih sempurna apabila di kombinasikan dengan ilmu retorika. Dikarenakan output dari public speaking sendiri hanya sekedar mengolah dan mengembangkan ketrampilan berbahasa atau komunikasi. Dan arahnya hanya akan tertuju pada pemahaman dari lawan bicara ataupun audiens. Namun apabila ilmu retorika, hal itu berbeda dengan public speaking. Output dari retorika sendiri mengarah ke persuasif atau mengelabuhi dengan cara halus. Jadi sasaran dari retorika yaitu: dari segi kognitif dan juga afektif bukan hanya sekedar pemahaman. Dan bisa disimpulkan ilmu retorika disisni terdapat nilai komunikasi yang lebih dikarenakan hal itu hingga dapat mempengaruhi lawan bicara. Nah apabila kita sudah mengetahui perbandingan dari public speaking dan ilmu retorika, maka dari sini kita dapat menemukan kesimpulan bahwasanya bentuk kiat kiat yang terdapat pada diri kaum civitas akademika, yang dimaksudkan disini yaitu kaum mahasiswa, sebuah basic public speaking yang di kembangkan, dilanjut dengan penguasaan pada ilmu retorika. Maka dengan sebuah kiat kiat tersebut, jati diri mahasiswa akan lebih utuh dan juga lebih variatif. 

            Kemudian tuliasan ini bertujuan untuk memberikan studi komporatif terhadap ilmu retorika dari dari perspektif umum dan perspektif ilmu Al-Qur’an serta hadis nabi. Dengan demikian ppembaca akan mendapatkan wawasan lebih dari urgensi mempelajari ilmu retorika. Namun juga dengan tidak meninggalkan unsur terpenting dari sumber literatur Al-Qur’an dan hadis nabi sebagai bentuk konklusi dari tulisan ini.

            Kita mungkin sering dengar slogan “bicara juga ada seninya”. Nah hal itu ternyata juga terdapat dalam retorika, yang mana kita akan membahasnya disini. Jadi retorika mengikuti pendapat dari Aristoteles yang saya dapatkan dari suatu jurnal yaitu: retorika Adalah ilmu yang mengajarkan orang tentang ketrampilan, persuasif yang objektif dari suatu hal (Suisyanto, 2020, hlm 2). Jadi seperti yang sudah disinggung dalam pendahuluan diatas, jadi ilmu retorika ialah ilmu yang mengajarkan ketrampilan komunikasi, yang bersifat persuasive namun juga dengan tingkatan objektif. Jadi yang dimaksud disini, pemahaman yang terdapat pada audiens atau lawan bicara melalui retorika yakni, yang bersifat persuasive atau cara mengelabuhi dengan halus. Tetapi hal tersebut juga didasarkan dengan objektivitas, yang mana terdapat sinkronisai antara pembicara dengan audiens. Jadi pembicara dalm berargumen dapat menekankan pemahaman dan juga lawan bicaranya mendapat pemahaman yang kokoh dan juga presisi. Jadi bisa disimpulkan bahwasanya retorika yaitu termasuk kedalam seni mengelola bahasa. Dikarenakan fokus yanag terdapat dalam retorika ini tidak hanya dari segi pemahaman, melalui gaya komunikasi serta dari respon lawan bicara itu menangkap pembicaraan dengan memfokuskan raut wajah serta Gerak mata yang terlihat, terhadap orang yang menjadi objek pembicaraan.

            Kemudian kita akan mendalami terkait Sejarah ilmu retorika guna mengetahui kronologi ataupun alur kemunculan dari ilmu retorika itu sendiri. Namun disini saya akan mengelompokkan terhadap beberapa periode. Jadi, retorika pada periode awal sudah mulai berkembang di Yunani pada abad ke 5 sampai 4 sebelum masehi. dalam perkembangan awal ini, retorika memfokuskan terhadap persuasive Masyarakat perihal hegemoni pemerintahan. Dan pada era awal ini, terdapat beberapa tokoh retorika antara lain: Solon yang hidup pada (640-560) SM, pesistratos (600-527) SM dan Thenutokles yang hidup pada tahun (527-460) SM. pada era ini juga muncul tokoh retorika yang ahli pidato Bernama Perikles (500-429) SM. ia saking ahlinya, sampai para pengagumnya mengatakan “dewi dewi seni yang berbicara yang memiliki daya Tarik memukau bertakhta di atas lidahnya.” Dengan munculnya Perikles, para orator lain bermunculan juga. Kemudian di era ini mulai tersusun ilmu retorika yang pertama kali disusun di daerah koloni Yunani.

            Kemudian periode selanjutnya terjadi di romawi pada masa (300-130) SM. pada era ini retorika lebih berkembang dengan adanya pengajaran retorika di sekolah sekolah. Sehingga di periode ini muncul tokoh retorika terkenal salah satunya Bernama Tullius Cicero. Selanjutnya pada periode era pertengahan disini retorika mulai mengalami kemunduran. Disebabkan dengan adanya larangan dari para tokoh gereja. Yang mana mereka menganggap retorika ini sebagai kesenian jahiliyah. Kemudian setelah retorika mengalami kemunduran, di periode selanjtnya retorika mulai berkembang lagi. Lebih tepatnya di era zaman renainsance pada abad ke 14. Pada era ini para ahli pidato mulai menulis, menerbitkan bahkan mengadakan debat di universitas ke universitas yang lain, atau dari satu kota ke kota yang lain. Di periode selanjutnya, yakni periode terakhir yang terjadi di era zaman modern. Di era ini retorika dikembangkan dengan tujuan menjembatani dari era Yunani dan romawi. Namun dengan di korelasikan terhadap bidang keilmuan lain yaitu ilmu psikis. Dan di era ini retorika di dasarkan terhadap pesan secara efektif yang tertulis, namun juga tidak mengabaikan dari kemampuan secara lisan yang baik.

            Maka dari itu, ilmu retorika mengalami perkembangan yang cukup Panjang. Yang berawal dari era Yunani kuno, yang mana di sini hanya terbentuk ide-ide atau kerengka retorika secara sederhana. Kemudian hingga di era modern retorika sudah terbentuk menjadi produk ilmu yang sistematis dan kompleks. Dengan adanya 3 aliran yang muncul diantaranya: pertama. Aliran epitemologis yang membahas pendekatan mengenai asal usul, metode daan batas-batas pengetahuan manusia. Kedua, Aliran Belles littres dengan pendekatan yang mengutamakan keindahan, segi-segi estetis pesan dan kadang kadang mengesampingkan isi informasi. Dan yang ketiga yaitu aliran elukosionis yang berfokus pada pendekatan metodologis, petunjuk praktis dari retorika.

            Jadi secara singkat, ilmu retorika mengalami eskalasi panjang dari segi historis saat mulai berkembangnya, hingga di zaman sekarang retorika sudah terbentuk secara kompleks. Namun disini kita akan mendalami ilmu retorika dari perspektif era modern, yang mana pada era modern ini retorikaa dipahami sebagai tekhnik persuasive. Jadi retorika mengajarkan sebuah tekhnik pembujuk rayuan dengan argumen yang objektiv. Dalam artian objektiv disini ialah, adanya kesepakatan yang terdapat pada pembicara dan juga lawan bicaranya. Dengan upaya dari pembicara  meliputi cara dia menyampaikan dan juga cara ia untuk meyakinkan. Maka dari itu dalam retorika terdapat 3 unsur idealis utama yaitu: etos atau yang dapat diartikan sebagai komptensi, kedua patos terkait kejiwaan mencakup kognitif dan afektif, ketiga logos atau yang diartikan sebagai kemampuan untuk meyakinkan.

            Dari unsur idealis utama ilmu retorika, maka penutur atau pembicara harus terlebih dahulu mempunyai kredibilitas. Dikarenakan ha itu menjadi modal pertama seseorang menerima kepercayaan terhadap lawan bicara. Namun, kredibilitas disini bisa dimaknai juga terhadap apa yang menjadi penyampaian atau argumen pembicara. Maka dengan modal awal yakni mengenai kredibilitas yang ada pada diri pembicara dan juga mengenai pembahasan yang ia bawakan, selanjutnya nilai argumen yang ditangkap oleh lawan bicara akan lebih berbobot dan menjadi semakin utuh. Namun hal itu juga harus di back up dengan 2 unsur berikutnya yaitu: patos guna menargetkan penyampaian terhadap unsur kognitif atau kecerdasan intelektual dan juga unsur afektif atau kecerdasan emosional. Jadi dalam pengaplikasian nya, nilai persuasive yang ditonjolkan sangat berkaitan dengan unsur idealis kedua ini. Dikarenkan lawan bicara terpengaruhi ataupun terdorong dengan penyampaian melalui fikiran dan perasaan. Maka dari tiu, dari unsur idealis kedua ini sangat menentukan arah dari retorika yakni sebagai persuasive. Kemudian unsur idealis ketiga, guna melengkapi unsur unsur sebelumnya yaitu logos atau kemmpuan dalam penyampaian. Jadi ibarat 3 unsur idealis diatas itu sebuah kerangka, dengan point yang utama yakni etos yang mana hal itu ibarat sebuah branding awal ketika seseorang memulai penyampaian. Kemudian selanjutnya di lengkapi dengan sasaran yang di utamakan dalam penyampaian melalui unsur patos, dengan fokus ke segi fikiran dan perasaan. Nah setelah 2 unsur diatas sudah terlengkapi, kemudian tahapan selanjutnya yakni pemaksimalan dalam eksekusi, dalam tanda kutip harus mendasarkan terhadap unsur idealis terakhir yaitu logos dengan mendasarkan nilai kemampuan seseorang dalam penyampaian. Nah maka dari itu 3 unsur idealis inilah yang menentukan arah dari retorika.

            Apabila retorika dalam perspektif umum dipahami sebagai seni mengelola bahasa untuk mempengaruhi audiens, maka dalam perspektif wahyu, retorika tidak berhenti pada aspek persuasi semata, tetapi bergerak menuju verifikasi dan tanggung jawab moral. Di sinilah letak integrasi antara wahyu dan ilmu umum. Retorika bukan sekadar kemampuan memikat, melainkan kemampuan menyampaikan kebenaran secara tepat, bijak, dan terukur. 

Dalam Al-Qur'an, prinsip verifikasi ditegaskan secara eksplisit dalam QS. Al-Hujurāt ayat 6 yang berbunyi:

 فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Dalam ayat ini terdapat perintah untuk فَتَبَيَّنُوا tabayyun terhadap setiap informasi. Ayat ini menunjukkan bahwa komunikasi tidak boleh dibangun di atas asumsi, manipulasi, atau kepentingan sepihak. Setiap pesan harus melalui proses klarifikasi dan pengujian kebenaran. Dengan demikian, retorika dalam Islam memiliki fondasi epistemologis: berbicara harus berbasis data, fakta, dan kejujuran.

Lebih lanjut, dalam QS. An-Naḥl ayat 125 yang berbunyi:

 

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

Artinya: "Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk."

                Ayat tersebut menjelaskan metode komunikasi yang ideal: bil hikmah, bil mau‘izhah hasanah, dan jadal (debat) bil Hasan  (terbaik). Dimana Hikmah mencerminkan dimensi rasional (logos), mau‘izhah hasanah menyentuh aspek emosional (pathos), dan cara debat yang terbaik menunjukkan kredibilitas moral pembicara (ethos). Jika dikaji lebih dalam, struktur ini justru melampaui formulasi retorika klasik yang dirumuskan oleh Aristoteles. Artinya, wahyu tidak menafikan retorika, tetapi menyempurnakannya dengan nilai etika dan spiritualitas.

Selain itu, Al-Qur’an juga menekankan konsep qaulan sadīda (perkataan yang benar dan tepat) uang tertera dalam QS. Al-Aḥzāb ayat 70:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.

                Dalam ayat ini, mengandung prinsip untuk menegaskan  presisi dan integritas adalah bentuk ruh komunikasi. Seperti contohnya, Seorang mahasiswa atau civitas akademika tidak cukup hanya mampu berbicara menarik, tetapi harus mampu menyampaikan kebenaran secara lurus dan bertanggung jawab. Inilah pergeseran paradigma dari retorika yang berorientasi pengaruh menuju retorika yang berorientasi kebenaran. Bahkan diceritakan dalam Al Qur'an, ketika menghadapi lawan yang keras seperti Fir‘aun, Allah memerintahkan Nabi Musa untuk berbicara dengan kata-kata yang lemah lembut yang tertera dalam QS. Ṭāhā: 44:

فَقُوْلَا لَهٗ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهٗ يَتَذَكَّرُ اَوْ يَخْشٰى

Artinya: Berbicaralah kamu berdua (Musa dan Harun) kepadanya (Fir‘aun) dengan perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.”

Perintah  yang tertera dalam kisah  ayat Ini menunjukkan, bahwa kekuatan retorika bukan terletak pada tekanan suara atau dominasi argumentasi, melainkan pada kelembutan, pengendalian diri, dan strategi komunikasi yang menyentuh hati.

                Dengan demikian, integrasi interkoneksi antara wahyu dan ilmu umum menghasilkan satu formulasi baru: retorika yang tidak manipulatif, tetapi edukatif; tidak sekadar persuasif, tetapi juga verifikatif; tidak hanya menyentuh pikiran, tetapi juga membangun karakter. Di sinilah mahasiswa sebagai agen intelektual dituntut untuk mengembangkan public speaking yang berakar pada etika Qur’ani, sehingga komunikasi yang dibangun tidak hanya efektif, tetapi juga bernilai ibadah dan membawa maslahat.

           


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makna “Bi Ḥablillāh” sebagai Prinsip Persatuan dalam Islam : Kajian Tafsir QS. Ali-Imran (3) : 103

Di UIN Syech Wasil Kediri lebih tepatnya pada fakultas FUDA (Fakultas Ushuluddin dan Dakwah) prodi IAT (Ilmu Al Qur'an dan Tafsir) telah melaksanakan TAFASIR atau biasa disebut PBAK Prodi. PBAK merupakan awal perjalanan kita di kampus yang notabene beragama islam. Suasana penuh tawa, canda, dan keakraban membuat dua hari terasa begitu cepat. Dari yang awalnya masih canggung, kini mulai terjalin persahabatan yang hangat. Kebersamaan inilah yang membuat kita belajar, bahwa ilmu bukan hanya datang dari ruang kelas, tetapi juga dari interaksi, pengalaman, dan persaudaraan yang lahir dalam momen-momen sederhana. Allah SWT berfirman dalam potongan ayat Al-Qur’an: وَاعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًۭا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ Artinya: “Dan berpegangteguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai...” (QS. Ali Imran: 103) Dalam potongan Ayat ini terdapat frasa بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًۭا (ikatan dengan Allah berupa kebersamaan) dapat di ta'wilkam bahwa ...

STRUKTUR IBADAH DAN MAKNA IKHLAS" DALAM QS. AL-BAYYINAH (93) : 5

QS. Al-Bayyinah (98) : 5 وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ  ۝٥   wa mâ umirû illâ liya‘budullâha mukhlishîna lahud-dîna ḫunafâ'a wa yuqîmush-shalâta wa yu'tuz-zakâta wa dzâlika dînul-qayyimah Artinya: Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya lagi hanif (istiqamah), melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus (benar). STRUKTUR IBADAH DAN MAKNA IKHLAS DALAM QS. AL-BAYYINAH (93) : 5 Part 01 وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ "Dan mereka tidak diperintahkan kecuali agar menyembah Allah." Imam Az-Zamakhsyarī dalam kitab tafsirnya memaknai ayat tersebut, bahwa seluruh ajaran yang terdapat dalam kitab-kitab samawi bermuara pada satu tujuan utama, yaitu penghambaan murni kepada Allah. Beliau juga menjelaskan bahwa: وما أمروا بما في الكتابين إلا لأجل أن يعبدوا ال...