Memahami Tanpa Merendahkan: Dimensi Interpretatif dalam Filsafat dan Al-Qur’an
Oleh: Mohammad. Alvin Faizi
Ada sebuah ungkapan yang berbunyi: "kamu harus menjadi seseorang untuk mengetahui orang itu" atau dalam bahasa inggris nya yaitu "you have to be one to know one". Mungkin kita tidak asing mendengar kalimat tersebut, dan ternyata itu ialah sebuah tesis yang dibedah dalam buku filsafat ilmu kontemporer karya Brian Fay. Dimana buku itu, terdapat 3 point yang mengarah terhadap makna know atau menjadi orang itu.
Point pertama: Didasarkan pada makna know yang berarti seseorang harus dapat menguraikan atau menerangkan terhadap objek yang dibicarakan dalam artian orang lain. Namun hal ini masih dinilai rancu, Dikarenakan ketika kita harus dapat menerangkan orang lain maka kita belum ada suatu perantara yang mana memiliki fungsi sebagai perantara guna kita dapat memahami orang itu.
Selanjutnya dijawab lagi pada point kedua: yakni, arti kata know sendiri di dasarkan terhadap sebuah pengalaman yang sama. Meski dari sini sudah menjadi antitesis terhadap point awal, namun pada kenyataannya hal demikian juga masih abstrak. Dikarenakan, apabila seseorang ingin mengetahui orang lain dengan cara orang itu mempunyai pengalaman yang sama, sehingga ia dapat menjadi orang tersebut, maka jika dinalar, seorang dokter juga harus mengalami sakit apabila ia sedang memeriksa pasien dan perawat ODGJ pun juga harus mengalami keadaan yang sama pula terhadap pasiennya yang mana keduanya harus gila.
Maka dari itu kita dapat menyimpulkan bahwasanya dengan perantara kesamaan pengalaman pun dirasa masih kurang. Nah di point terakhir ini, memiliki arti yang mengarah pada kata know diatas, ini didasari dengan sebuah refleksi dan juga sikap memahami dari subjek yang berkepentingan untuk mengetahui orang lain. Ketika kedua point diatas menjadi seimbang powernya, maka dalam point ketiga ini suatu pengalaman tidak harus sekedar pengalaman itu sendiri, tapi juga bagaimana individu menangkap makna pengalaman tersebut.
Jadi pada intinya terdapat sebuah batasan antara mengetahui objek dan menjadi subjek. Maka dalam point ini sifatnya lebih ke suatu pemahaman interpretatif. Maka dalam ilmu filsafat dinamakan aliran solipsisme, secara istilah adalah aliran yang berpusat pada diri sendiri. Serta, secara metodologis yang digunakan ini disebut insider epistimology. Dengan adanya pemaparan tesis diatas, ternyata terdapat sebuah korelasi dengan salah satu sumber syari'at, tepatnya pada hadis yang berbunyi:
المؤمنُ مرآةُ المؤمنِ
أخرجه أبو داود (4918) واللفظ له، والبزار (8109)، والطبراني في ((مكارم الأخلاق)) (92)
Artinya: orang mukmin itu sebagai cerminan bagi mukmin yang lain. Pada konteks tersebut diharapkan bagi orang mukmin, bisa menjadi mata bagi saudara nya terhadap dirinya sendiri.
Dalam Al-Qur'an juga disebutkan dalam QS. Al-Hujurat (49) : 11 yang berbunyi:
يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسى أَنْ يَكُونُوا خَيْراً مِنْهُمْ وَلا نِساءٌ مِنْ نِساءٍ عَسى أَنْ يَكُنَّ خَيْراً مِنْهُنَّ وَلا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلا تَنابَزُوا بِالْأَلْقابِ بِئْسَ الاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (11)
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain, boleh jadi mereka (yang direndahkan) lebih baik daripada mereka. Dan jangan pula perempuan-perempuan (merendahkan) perempuan lain, boleh jadi perempuan yang direndahkan itu lebih baik daripada mereka. Janganlah kalian saling mencela diri kalian sendiri dan janganlah kalian saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang mengandung kefasikan setelah beriman. Barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”
Dalam Ayat ini menekankan bahwa memahami orang lain tidak boleh dengan prasangka superioritas. Dimana hal Ini selaras dengan kritik terhadap pemahaman dangkal (poin pertama dan kedua) yang telah disebutkan diatas dan mengarah pada pemahaman reflektif bahwa bisa jadi “yang lain” lebih memahami kebenaran daripada kita. hal tersebut juga diperkuat oleh penjelasan imamuna Musthofa Al-Maraghi dalam kitab tafsirnya yang berbunyi:
Diriwayatkan pula oleh Muslim dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda:
وروى مسلم عن أبى هريرة قال: قال رسول الله صلّى الله عليه وسلم «إن الله لا ينظر إلى صوركم وأموالكم ولكن ينظر إلى قلوبكم وأعمالكم»
[المراغي، أحمد بن مصطفى ,تفسير المراغي ,26/134]
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.”
Ini mengisyaratkan bahwa seseorang tidak boleh memastikan pujian atau celaan hanya berdasarkan apa yang tampak dari amal lahiriah, baik ketaatan maupun pelanggaran. Bisa jadi seseorang yang tampak menjaga amal lahiriah ternyata dalam hatinya ada sifat tercela yang membuat amalnya tidak sah. Dan bisa jadi seseorang yang kita lihat lalai atau berdosa, Allah mengetahui dalam hatinya sifat terpuji yang menjadi sebab diampuninya. Amal-amal lahiriah hanyalah tanda yang bersifat dugaan, bukan dalil yang pasti.
Dari pemaparan tafsir dan hadits yang dikutip oleh Al-Maraghi dalam kitab tafsirnya, QS. Al-Hujurat (49): 11 memiliki relevansi yang sangat kuat dengan tesis “you have to be one to know one” yang dikritisi melalui tiga tahapan makna know. Ayat tersebut secara tegas melarang sikap merendahkan, mencela, dan memberi label buruk kepada orang lain, karena bisa jadi pihak yang direndahkan justru lebih baik di sisi Allah. Larangan ini secara epistemologis membongkar klaim superioritas dalam memahami orang lain. Pemahaman yang didasarkan pada tampilan luar, status sosial, atau kesan lahiriah merupakan bentuk pengetahuan yang dangkal dan sejalan dengan kritik terhadap poin pertama dan kedua yang hanya bertumpu pada deskripsi objektif atau kesamaan pengalaman. dalam hal ini, Al-Qur’an justru mengarahkan manusia pada kesadaran reflektif: bahwa realitas batin seseorang tidak dapat diukur hanya dari apa yang tampak.
Penjelasan Imam Musthafa Al-Maraghi yang mengutip hadis Nabi ﷺ, “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian”, semakin mempertegas dimensi interpretatif tersebut. Hadis ini menunjukkan bahwa kebenaran tidak berhenti pada permukaan fenomena, melainkan berada pada kedalaman makna dan niat batin. Dengan demikian, memahami orang lain bukanlah soal menjadi sama secara fisik atau mengalami hal yang identik, melainkan tentang kerendahan hati epistemik kesadaran bahwa apa yang tampak bukanlah ukuran final. Di sinilah letak keseimbangan antara mengetahui objek dan menghormati subjektivitasnya. Maka, ayat ini selaras dengan gagasan bahwa pengetahuan sejati menuntut refleksi diri, pengendalian ego, dan pengakuan atas kemungkinan bahwa “yang lain” bisa jadi lebih dekat kepada kebenaran daripada diri kita sendiri.
Komentar
Posting Komentar