Langsung ke konten utama

STRUKTUR IBADAH DAN MAKNA IKHLAS" DALAM QS. AL-BAYYINAH (93) : 5

QS. Al-Bayyinah (98) : 5 وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ  ۝٥   wa mâ umirû illâ liya‘budullâha mukhlishîna lahud-dîna ḫunafâ'a wa yuqîmush-shalâta wa yu'tuz-zakâta wa dzâlika dînul-qayyimah Artinya: Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya lagi hanif (istiqamah), melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus (benar). STRUKTUR IBADAH DAN MAKNA IKHLAS DALAM QS. AL-BAYYINAH (93) : 5 Part 01 وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ "Dan mereka tidak diperintahkan kecuali agar menyembah Allah." Imam Az-Zamakhsyarī dalam kitab tafsirnya memaknai ayat tersebut, bahwa seluruh ajaran yang terdapat dalam kitab-kitab samawi bermuara pada satu tujuan utama, yaitu penghambaan murni kepada Allah. Beliau juga menjelaskan bahwa: وما أمروا بما في الكتابين إلا لأجل أن يعبدوا ال...

QS. Al-Qoshos (28) : 07

 

RAHASIA SEORANG IBU DALAM AL-QUR'AN: REKONTEKSTUALISASI QS. AL-QOSHOS (28) : 7

Hari ini, tepatnya 22 Desember 2025 dimana diperingati sebagai HARI IBU. dimana hari ini berawal dari Kongres Perempuan Indonesia I pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta, yang menyatukan organisasi perempuan untuk memperjuangkan hak dan kemerdekaan, hingga akhirnya tanggal 22 Desember ditetapkan sebagai Hari Ibu (PHI) pada Kongres III tahun 1938 untuk mengenang perjuangan perempuan Indonesia, dan resmi jadi hari nasional (bukan libur) lewat Keppres No. 316 tahun 1959. Peringatan ini menghargai peran perempuan dalam keluarga, masyarakat, dan perjuangan bangsa.

Berbeda dengan Mother's Day di Barat yang lebih fokus pada peran personal ibu. Tetapi pada kali ini akan dijelaskan sebuah interpretasi sosok seorang ibu dalam perspektif Al-Qur'an. Seperti pada Firman Allah SWT dalam QS. Al-Qoshos (28) : 7 :

وَأَوْحَيْنا إِلى أُمِّ مُوسى أَنْ أَرْضِعِيهِ فَإِذا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلا تَخافِي وَلا تَحْزَنِي إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ (7)

Artinya: Kami mengilhamkan kepada ibu Musa, “Susuilah dia (Musa). Jika engkau khawatir atas (keselamatan)-nya, hanyutkanlah dia ke sungai (Nil dalam sebuah peti yang mengapung). Janganlah engkau takut dan janganlah (pula) bersedih. Sesungguhnya Kami pasti mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya sebagai salah seorang rasul.”

Dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwasanya, Para ulama menyebutkan bahwa setelah Fir'aun banyak membunuh bayi laki-laki kaum Bani Israil, maka orang-orang Qibti (Egypt) merasa khawatir akan kebinasaan bangsa Bani Israil. Diketahui bahwasanya Nabi Musa termasuk dalam suku Lewi yang merupakan bagian dari 12 suku dala Bani Israil.

Tetapi keadaan ini tersebut hanya berlangsung kurang lebih 1 tahun saja dimana jika hal tersebut terus dilakukan maka pastilah orang tua-orang tua laki-laki mereka mati dan bayi laki-laki mereka dihabisi, sedangkan yang tertinggal hanyalah kaum wanita mereka saja, dan kaum wanita mereka tidak mungkin dapat menggantikan pekerjaan-pekerjaan berat yang ditangani oleh kaum lelaki. Sedangkan satu tahun selanjutnya hal tersebut sudah tidak dilanjutkan.

Lebih dalam lagi dalam historis tersebut seorang nabi Harun AS dilahirkan pada tahun dimana membiarkan hidup bayi laki-laki yang lahir di tahun itu, sedangkan nabi Musa dilahirkan di tahun mereka membunuhi semua bayi laki-laki yang lahir di tahun itu. Mengenai kisah tersebut, pastilah sangat takut seorang ibu terhadap keselamatan anaknya. Maka dari itu Allah SWT memberikan Ilham terhadap Ibu Nabi Musa berupa: وَأَوْحَيْنا إِلى أُمِّ مُوسى أَنْ أَرْضِعِيهِ (“Dan Kami wahyukan kepada ibu Musa: ‘Susuilah dia’”), Al-Maraghi dalam tafsirnya menjelaskan: Kami ilhamkan kepadanya dan Kami tanamkan ke dalam hatinya agar ia menyusui Musa selama mungkin ia dapat menyembunyikannya dari musuhnya dan musuh Musa. (Tafsir al-Marāghī, Ahmad bin Musthafa al-Marāghī, jilid 20, hlm. 37)

Selanjutnya dalam ayat tersebut  yang berbunyi: فَإِذا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلا تَخافِي وَلا تَحْزَنِي إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ (Jika engkau khawatir atas (keselamatan)-nya, hanyutkanlah dia ke sungai (Nil dalam sebuah peti yang mengapung). Janganlah engkau takut dan janganlah (pula) bersedih. Sesungguhnya Kami pasti mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya sebagai salah seorang rasul.”) potongan  Ayat ini mengandung dua perintah, yaitu “susuilah dia” dan “jatuhkanlah dia”;  dua larangan, yaitu “janganlah engkau takut” dan “janganlah engkau bersedih”; dua berita, yaitu “Sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu” dan “Kami akan menjadikannya (seorang rasul)”; serta dua kabar gembira yang terkandung dalam dua berita tersebut, yakni pengembalian Musa kepada ibunya dan pengangkatannya sebagai salah seorang rasul.

Struktur retorika ayat tersebut mengandung tentang  perjuangan seorang ibu selalu diapit oleh tuntutan, larangan, janji, dan harapan. Dengan demikian, hal tersebut mengandung:

Paradoks Perintah: Antara Naluri Keibuan dan Tawakal terhadap Tuhan

Perintah berupa “hanyutkanlah dia ke sungai” merupakan ujian iman yang sangat berat, karena bertentangan dengan naluri alami seorang ibu. Namun justru di sinilah letak keagungan sosok ibu dalam perspektif Al-Qur’an:

- Ia mampu mengalahkan ketakutan personal demi rencana Allah.

- Ia mengubah rasa kehilangan menjadi tawakal aktif, bukan pasrah pasif.

Sedangkan Larangan “janganlah engkau takut dan jangan bersedih” menegaskan bahwa iman bukan meniadakan emosi, tetapi menenangkan dan mengarahkannya.

Dalam hal ini, sangat relevan dengan kondisi sekarang yang begitu berat sikap seorang ibu terhadap masa depan anaknya. Contohnya ketika seorang ibu melepaskan anaknya untuk pergi melanjutkan pendidikan ke pesantren, hendaknya seorang ibu pastilah berat untuk melepaskan anaknya, tetapi hal inilah yang menjadi penentu terhadap masa depan anaknya. Dimana seorang ibu bukan hanya secara biologis tetapi sebagai arsitek terhadap anaknya.

Maka dari itu, begitu agung sosok seorang ibu yang dijelaskan dalam Al-Qur'an, pada kisah seorang ibu Musa dalam QS. Al-Qashas (28) : 7. Serta saya secara pribadi berterimakasih atas bentuk keikhlasan dari ibu saya yang selalu mengarahkan saya kepada hal-hal yang positif dan  menyarankan saya untuk selalu hidup di lingkungan pesantren. yang sangat baik untuk seorang anak dengan kondisi zaman sekarang. Wallahu a'lam.....

Happy Mother's day

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makna “Bi Ḥablillāh” sebagai Prinsip Persatuan dalam Islam : Kajian Tafsir QS. Ali-Imran (3) : 103

Di UIN Syech Wasil Kediri lebih tepatnya pada fakultas FUDA (Fakultas Ushuluddin dan Dakwah) prodi IAT (Ilmu Al Qur'an dan Tafsir) telah melaksanakan TAFASIR atau biasa disebut PBAK Prodi. PBAK merupakan awal perjalanan kita di kampus yang notabene beragama islam. Suasana penuh tawa, canda, dan keakraban membuat dua hari terasa begitu cepat. Dari yang awalnya masih canggung, kini mulai terjalin persahabatan yang hangat. Kebersamaan inilah yang membuat kita belajar, bahwa ilmu bukan hanya datang dari ruang kelas, tetapi juga dari interaksi, pengalaman, dan persaudaraan yang lahir dalam momen-momen sederhana. Allah SWT berfirman dalam potongan ayat Al-Qur’an: وَاعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًۭا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ Artinya: “Dan berpegangteguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai...” (QS. Ali Imran: 103) Dalam potongan Ayat ini terdapat frasa بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًۭا (ikatan dengan Allah berupa kebersamaan) dapat di ta'wilkam bahwa ...

STRUKTUR IBADAH DAN MAKNA IKHLAS" DALAM QS. AL-BAYYINAH (93) : 5

QS. Al-Bayyinah (98) : 5 وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ  ۝٥   wa mâ umirû illâ liya‘budullâha mukhlishîna lahud-dîna ḫunafâ'a wa yuqîmush-shalâta wa yu'tuz-zakâta wa dzâlika dînul-qayyimah Artinya: Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya lagi hanif (istiqamah), melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus (benar). STRUKTUR IBADAH DAN MAKNA IKHLAS DALAM QS. AL-BAYYINAH (93) : 5 Part 01 وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ "Dan mereka tidak diperintahkan kecuali agar menyembah Allah." Imam Az-Zamakhsyarī dalam kitab tafsirnya memaknai ayat tersebut, bahwa seluruh ajaran yang terdapat dalam kitab-kitab samawi bermuara pada satu tujuan utama, yaitu penghambaan murni kepada Allah. Beliau juga menjelaskan bahwa: وما أمروا بما في الكتابين إلا لأجل أن يعبدوا ال...

Makna “Bi Ḥablillāh” sebagai Prinsip Persatuan dalam Islam : Kajian Tafsir QS. Ali-Imran (3) : 103

 Sebelumnya telah diuraikan pemaknaan frasa bi hablillah menurut para ulama' yang diambil dari penafsiran Al-Baghowi. Serta penafsiran Al-Maraghi dalam kitab tafsirnya. Dimana kedua kitab tafsir tersebut menjelaskan bahwasanya bi hablillah merupakan ikatan Allah yang di maknai sebagai bentuk iman seorang hamba kepada sang Khaliq . Iman sendiri adalah suatu hal yang menjadi rukun bagi umat yang beragama Islam. Implementasi iman dalam QS. Ali-Imran ayat 103 dimaknai dalam hadits yang menunjukkan bentuk iman bisa melalui bi hablillah . (Lihat bi habilillah part 2) Iman seorang hamba disini itu bisa berupa seberapa kuat dia berpegang teguh pada _bi habilillah. Bi habilillah juga memiliki nilai implementasi terhadap konteks sosial berupa persaudaraan, kemasyarakatan, kekeluargaan, hingga lingkup sosial pertemanan. QS. Ali-Imran ayat 103 di awali dengan frasa wa'tashimu yang berarti berpegang teguhlah!. Dimana frasa tersebut berupa fi'il amr yang menunjukkan makna perintah dan p...