RAHASIA SEORANG IBU DALAM AL-QUR'AN: REKONTEKSTUALISASI QS. AL-QOSHOS (28) : 7
Hari ini, tepatnya 22 Desember 2025 dimana diperingati sebagai HARI IBU. dimana hari ini berawal dari Kongres Perempuan Indonesia I pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta, yang menyatukan organisasi perempuan untuk memperjuangkan hak dan kemerdekaan, hingga akhirnya tanggal 22 Desember ditetapkan sebagai Hari Ibu (PHI) pada Kongres III tahun 1938 untuk mengenang perjuangan perempuan Indonesia, dan resmi jadi hari nasional (bukan libur) lewat Keppres No. 316 tahun 1959. Peringatan ini menghargai peran perempuan dalam keluarga, masyarakat, dan perjuangan bangsa.
Berbeda dengan Mother's Day di Barat yang lebih fokus pada peran personal ibu. Tetapi pada kali ini akan dijelaskan sebuah interpretasi sosok seorang ibu dalam perspektif Al-Qur'an. Seperti pada Firman Allah SWT dalam QS. Al-Qoshos (28) : 7 :
وَأَوْحَيْنا إِلى أُمِّ مُوسى أَنْ أَرْضِعِيهِ فَإِذا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلا تَخافِي وَلا تَحْزَنِي إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ (7)
Artinya: Kami mengilhamkan kepada ibu Musa, “Susuilah dia (Musa). Jika engkau khawatir atas (keselamatan)-nya, hanyutkanlah dia ke sungai (Nil dalam sebuah peti yang mengapung). Janganlah engkau takut dan janganlah (pula) bersedih. Sesungguhnya Kami pasti mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya sebagai salah seorang rasul.”
Dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwasanya, Para ulama menyebutkan bahwa setelah Fir'aun banyak membunuh bayi laki-laki kaum Bani Israil, maka orang-orang Qibti (Egypt) merasa khawatir akan kebinasaan bangsa Bani Israil. Diketahui bahwasanya Nabi Musa termasuk dalam suku Lewi yang merupakan bagian dari 12 suku dala Bani Israil.
Tetapi keadaan ini tersebut hanya berlangsung kurang lebih 1 tahun saja dimana jika hal tersebut terus dilakukan maka pastilah orang tua-orang tua laki-laki mereka mati dan bayi laki-laki mereka dihabisi, sedangkan yang tertinggal hanyalah kaum wanita mereka saja, dan kaum wanita mereka tidak mungkin dapat menggantikan pekerjaan-pekerjaan berat yang ditangani oleh kaum lelaki. Sedangkan satu tahun selanjutnya hal tersebut sudah tidak dilanjutkan.
Lebih dalam lagi dalam historis tersebut seorang nabi Harun AS dilahirkan pada tahun dimana membiarkan hidup bayi laki-laki yang lahir di tahun itu, sedangkan nabi Musa dilahirkan di tahun mereka membunuhi semua bayi laki-laki yang lahir di tahun itu. Mengenai kisah tersebut, pastilah sangat takut seorang ibu terhadap keselamatan anaknya. Maka dari itu Allah SWT memberikan Ilham terhadap Ibu Nabi Musa berupa: وَأَوْحَيْنا إِلى أُمِّ مُوسى أَنْ أَرْضِعِيهِ (“Dan Kami wahyukan kepada ibu Musa: ‘Susuilah dia’”), Al-Maraghi dalam tafsirnya menjelaskan: Kami ilhamkan kepadanya dan Kami tanamkan ke dalam hatinya agar ia menyusui Musa selama mungkin ia dapat menyembunyikannya dari musuhnya dan musuh Musa. (Tafsir al-Marāghī, Ahmad bin Musthafa al-Marāghī, jilid 20, hlm. 37)
Selanjutnya dalam ayat tersebut yang berbunyi: فَإِذا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلا تَخافِي وَلا تَحْزَنِي إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ (Jika engkau khawatir atas (keselamatan)-nya, hanyutkanlah dia ke sungai (Nil dalam sebuah peti yang mengapung). Janganlah engkau takut dan janganlah (pula) bersedih. Sesungguhnya Kami pasti mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya sebagai salah seorang rasul.”) potongan Ayat ini mengandung dua perintah, yaitu “susuilah dia” dan “jatuhkanlah dia”; dua larangan, yaitu “janganlah engkau takut” dan “janganlah engkau bersedih”; dua berita, yaitu “Sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu” dan “Kami akan menjadikannya (seorang rasul)”; serta dua kabar gembira yang terkandung dalam dua berita tersebut, yakni pengembalian Musa kepada ibunya dan pengangkatannya sebagai salah seorang rasul.
Struktur retorika ayat tersebut mengandung tentang perjuangan seorang ibu selalu diapit oleh tuntutan, larangan, janji, dan harapan. Dengan demikian, hal tersebut mengandung:
Paradoks Perintah: Antara Naluri Keibuan dan Tawakal terhadap Tuhan
Perintah berupa “hanyutkanlah dia ke sungai” merupakan ujian iman yang sangat berat, karena bertentangan dengan naluri alami seorang ibu. Namun justru di sinilah letak keagungan sosok ibu dalam perspektif Al-Qur’an:
- Ia mampu mengalahkan ketakutan personal demi rencana Allah.
- Ia mengubah rasa kehilangan menjadi tawakal aktif, bukan pasrah pasif.
Sedangkan Larangan “janganlah engkau takut dan jangan bersedih” menegaskan bahwa iman bukan meniadakan emosi, tetapi menenangkan dan mengarahkannya.
Dalam hal ini, sangat relevan dengan kondisi sekarang yang begitu berat sikap seorang ibu terhadap masa depan anaknya. Contohnya ketika seorang ibu melepaskan anaknya untuk pergi melanjutkan pendidikan ke pesantren, hendaknya seorang ibu pastilah berat untuk melepaskan anaknya, tetapi hal inilah yang menjadi penentu terhadap masa depan anaknya. Dimana seorang ibu bukan hanya secara biologis tetapi sebagai arsitek terhadap anaknya.
Maka dari itu, begitu agung sosok seorang ibu yang dijelaskan dalam Al-Qur'an, pada kisah seorang ibu Musa dalam QS. Al-Qashas (28) : 7. Serta saya secara pribadi berterimakasih atas bentuk keikhlasan dari ibu saya yang selalu mengarahkan saya kepada hal-hal yang positif dan menyarankan saya untuk selalu hidup di lingkungan pesantren. yang sangat baik untuk seorang anak dengan kondisi zaman sekarang. Wallahu a'lam.....
Happy Mother's day
Komentar
Posting Komentar