Langsung ke konten utama

THE TREE MUSKETEER OF SCIENCE: (FILSAFAT, BAHASA, DIALEKTIKA) AND RELEVATION FOR QS. YUSUF (12): 02

Bahasa merupakan komponen utama dalam menyambung kesosialan antar manusia, dengan bahasa seseorang dapat menyalurkan pemahaman ataupun maksud dalam berkomunikasi. Sehingga dengan bahasa seseorang dapat menerapkan dirinya sebagai makhluk sosial. Dengan ini bahasa dapat menumbuhkan sosial yang baik dengan sesama, atau bisa disebut keakraban. Di dunia, ada lebih dari 3000 bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi. Salah satu bahasa yang paling dominan adalah bahasa arab, dimana bahasa ini memiliki lebih banyak penutur daripada bahasa-bahasa lainnya dalam rumpun bahasa Semit. Bahkan dituturkan oleh lebih dari 280 juta orang sebagai bahasa pertama. Maka dari itu, bahasa arab dinilai sebagai pengguna mayoritas, dan juga bahasa arab dianggap salah satu bahasa yang masyhur, terutama oleh kalangan yang beragama islam.  Seorang muslim mungkin hanya menganggap keistemewaan bahasa arab hanya dikarenakan menjadi bahasa kitab suci mereka yakni, Al-Qura’n. Selain itu, keistimewaan tersebut tern...

Makna “Bi Ḥablillāh” sebagai Prinsip Persatuan dalam Islam : Kajian Tafsir QS. Ali-Imran (3) : 103

 Sebelumnya telah diuraikan pemaknaan frasa bi hablillah menurut para ulama' yang diambil dari penafsiran Al-Baghowi. Serta penafsiran Al-Maraghi dalam kitab tafsirnya. Dimana kedua kitab tafsir tersebut menjelaskan bahwasanya bi hablillah merupakan ikatan Allah yang di maknai sebagai bentuk iman seorang hamba kepada sang Khaliq .

Iman sendiri adalah suatu hal yang menjadi rukun bagi umat yang beragama Islam. Implementasi iman dalam QS. Ali-Imran ayat 103 dimaknai dalam hadits yang menunjukkan bentuk iman bisa melalui bi hablillah . (Lihat bi habilillah part 2) Iman seorang hamba disini itu bisa berupa seberapa kuat dia berpegang teguh pada _bi habilillah.

Bi habilillah juga memiliki nilai implementasi terhadap konteks sosial berupa persaudaraan, kemasyarakatan, kekeluargaan, hingga lingkup sosial pertemanan. QS. Ali-Imran ayat 103 di awali dengan frasa wa'tashimu yang berarti berpegang teguhlah!. Dimana frasa tersebut berupa fi'il amr yang menunjukkan makna perintah dan pada lanjutan frasa tersebut terdapat larangan yakni wala tafarraquw yang berarti jangan bercerai-berai. Dalam ayat tersebut dapat dikaitkan dengan salah satu kaidah tafsir yang berbunyi:

من حيث يُفهم من الأوامر والنواهي قصد شرعي بحسب الاستقراء, أو القرائن الدالة على أعيان المصالح في المأمورات، والمفاسد في المنهيات.

[خالد السبت، مختصر في قواعد التفسير، صفحة ١٨]

Artinya: “Dari sisi bahwa perintah dan larangan itu dipahami sebagai adanya maksud syar‘i berdasarkan hasil pengamatan menyeluruh (istiqra’), atau berdasarkan indikator-indikator yang menunjukkan adanya maslahat tertentu pada hal-hal yang diperintahkan, dan adanya mafsadat (kerusakan) pada hal-hal yang dilarang.”

(Khalid as-Sabt, Mukhtashar fī Qawā‘id at-Tafsīr, hlm. 18)

Dari pemaparan kaidah tersebut dapat diambil kesimpulan bahwasanya ayat tersebut mengandung perintah atau amr berupa frasa wa'tashimuw yang menunjukkan maslahat dalam perintah  berupa:

- stabilitas sosial

- kekuatan akidah

- penyelamatam umat dari kesesatan 

Dimana hal tersebut sesuai dengan potongan ayat dalam QS. Al-Ma'idah ayat 2 :

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ، وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Ayat tersebut menunjukkan pro terhadap perintah dalam QS Ali-Imran ayat 103 yang memberikan penjelasan penguat bahwasanya Allah menyandingkan perintah yang membawa maslahat sosial dengan larangan yang membawa mafsadat sosial. Serta menunjukkan bahwasanya ketika kita bekerja sama  dalam hal yang buruk maka akan menimbulkan mafsadat yang lebih terutama dalam konteks sosial.

Selanjutnya akan dipaparkan juga ayat-ayat yang memiliki munasabah dengan QS. Ali-Imran ayat 103 yang dijadikan sebagai  istiqra' untuk ayat tersebut.


NEXT PART 4......

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makna “Bi Ḥablillāh” sebagai Prinsip Persatuan dalam Islam : Kajian Tafsir QS. Ali-Imran (3) : 103

Di UIN Syech Wasil Kediri lebih tepatnya pada fakultas FUDA (Fakultas Ushuluddin dan Dakwah) prodi IAT (Ilmu Al Qur'an dan Tafsir) telah melaksanakan TAFASIR atau biasa disebut PBAK Prodi. PBAK merupakan awal perjalanan kita di kampus yang notabene beragama islam. Suasana penuh tawa, canda, dan keakraban membuat dua hari terasa begitu cepat. Dari yang awalnya masih canggung, kini mulai terjalin persahabatan yang hangat. Kebersamaan inilah yang membuat kita belajar, bahwa ilmu bukan hanya datang dari ruang kelas, tetapi juga dari interaksi, pengalaman, dan persaudaraan yang lahir dalam momen-momen sederhana. Allah SWT berfirman dalam potongan ayat Al-Qur’an: وَاعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًۭا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ Artinya: “Dan berpegangteguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai...” (QS. Ali Imran: 103) Dalam potongan Ayat ini terdapat frasa بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًۭا (ikatan dengan Allah berupa kebersamaan) dapat di ta'wilkam bahwa ...

DARI PERSUASI KE VERIFIKASI: INTEGRASI RETORIKA KLASIK DAN ETIKA KOMUNIKASI DALAM SUDUT PANDANG KOMPARATIF ILMU FILSAFAT DAN AL-QUR'AN

Di kalangan mahasiswa sendiri mungkin beberapa sudah biasa menemui basic yang menjadi ciri khas yaitu: public speaking. Dari asumsi tersebut memang sangat benar, namun saya pikir hal itu lebih sempurna apabila di kombinasikan dengan ilmu retorika. Dikarenakan output dari public speaking sendiri hanya sekedar mengolah dan mengembangkan ketrampilan berbahasa atau komunikasi. Dan arahnya hanya akan tertuju pada pemahaman dari lawan bicara ataupun audiens. Namun apabila ilmu retorika, hal itu berbeda dengan public speaking. Output dari retorika sendiri mengarah ke persuasif atau mengelabuhi dengan cara halus. Jadi sasaran dari retorika yaitu: dari segi kognitif dan juga afektif bukan hanya sekedar pemahaman. Dan bisa disimpulkan ilmu retorika disisni terdapat nilai komunikasi yang lebih dikarenakan hal itu hingga dapat mempengaruhi lawan bicara. Nah apabila kita sudah mengetahui perbandingan dari public speaking dan ilmu retorika, maka dari sini kita dapat menemukan kesimpulan bahwasanya b...

STRUKTUR IBADAH DAN MAKNA IKHLAS" DALAM QS. AL-BAYYINAH (93) : 5

QS. Al-Bayyinah (98) : 5 وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ  ۝٥   wa mâ umirû illâ liya‘budullâha mukhlishîna lahud-dîna ḫunafâ'a wa yuqîmush-shalâta wa yu'tuz-zakâta wa dzâlika dînul-qayyimah Artinya: Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya lagi hanif (istiqamah), melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus (benar). STRUKTUR IBADAH DAN MAKNA IKHLAS DALAM QS. AL-BAYYINAH (93) : 5 Part 01 وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ "Dan mereka tidak diperintahkan kecuali agar menyembah Allah." Imam Az-Zamakhsyarī dalam kitab tafsirnya memaknai ayat tersebut, bahwa seluruh ajaran yang terdapat dalam kitab-kitab samawi bermuara pada satu tujuan utama, yaitu penghambaan murni kepada Allah. Beliau juga menjelaskan bahwa: وما أمروا بما في الكتابين إلا لأجل أن يعبدوا ال...