Langsung ke konten utama

THE TREE MUSKETEER OF SCIENCE: (FILSAFAT, BAHASA, DIALEKTIKA) AND RELEVATION FOR QS. YUSUF (12): 02

Bahasa merupakan komponen utama dalam menyambung kesosialan antar manusia, dengan bahasa seseorang dapat menyalurkan pemahaman ataupun maksud dalam berkomunikasi. Sehingga dengan bahasa seseorang dapat menerapkan dirinya sebagai makhluk sosial. Dengan ini bahasa dapat menumbuhkan sosial yang baik dengan sesama, atau bisa disebut keakraban. Di dunia, ada lebih dari 3000 bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi. Salah satu bahasa yang paling dominan adalah bahasa arab, dimana bahasa ini memiliki lebih banyak penutur daripada bahasa-bahasa lainnya dalam rumpun bahasa Semit. Bahkan dituturkan oleh lebih dari 280 juta orang sebagai bahasa pertama. Maka dari itu, bahasa arab dinilai sebagai pengguna mayoritas, dan juga bahasa arab dianggap salah satu bahasa yang masyhur, terutama oleh kalangan yang beragama islam.  Seorang muslim mungkin hanya menganggap keistemewaan bahasa arab hanya dikarenakan menjadi bahasa kitab suci mereka yakni, Al-Qura’n. Selain itu, keistimewaan tersebut tern...

THE TREE MUSKETEER OF SCIENCE: (FILSAFAT, BAHASA, DIALEKTIKA) AND RELEVATION FOR QS. YUSUF (12): 02

Bahasa merupakan komponen utama dalam menyambung kesosialan antar manusia, dengan bahasa seseorang dapat menyalurkan pemahaman ataupun maksud dalam berkomunikasi. Sehingga dengan bahasa seseorang dapat menerapkan dirinya sebagai makhluk sosial. Dengan ini bahasa dapat menumbuhkan sosial yang baik dengan sesama, atau bisa disebut keakraban. Di dunia, ada lebih dari 3000 bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi. Salah satu bahasa yang paling dominan adalah bahasa arab, dimana bahasa ini memiliki lebih banyak penutur daripada bahasa-bahasa lainnya dalam rumpun bahasa Semit. Bahkan dituturkan oleh lebih dari 280 juta orang sebagai bahasa pertama. Maka dari itu, bahasa arab dinilai sebagai pengguna mayoritas, dan juga bahasa arab dianggap salah satu bahasa yang masyhur, terutama oleh kalangan yang beragama islam. 

Seorang muslim mungkin hanya menganggap keistemewaan bahasa arab hanya dikarenakan menjadi bahasa kitab suci mereka yakni, Al-Qura’n. Selain itu, keistimewaan tersebut ternyata sesuai dalam bahasa arab yang memiliki keunikan identik. Dalam hal ini, terlihat dalam sebuah upaya pengkajian bahasa arab yang ditemukan dalam khazanah atau cabang-cabang ilmu yang digunakan dalam penggunaan bahasa arab. Dari keunikan tersebut, seseorang secara otomatis akan mengexplore keilmuanya bukan hanya dalam segi dialog ataupun pembicaraan saja. karena ia akan tergerak untuk mendalami dari segi gramatika maupun aspek yang lain dalam bahasa arab. Dari sini, jikalau dilihat dari sudut pandang dalam bahasa arab maka akan terlihat dari unsur kebahasaanya saja. Namun, di sisi lain bentuk keunikan bahasa arab terletak pada unsur keindahan dalam penyusunan maupun variasi dalam bentuk linguistiknya. Dimana dalam bahasa arab terdapat sebuah nilai estetika yang bisa dibuktikan dalam kisah seorang tokoh dari kamu quraisy yang bernama Al-Walid ibn al-Mughirah. Ia dikenal sebagai kritikus sastra arab yang sangat ahli dimasanya. Dikisahkan bahwasanya ketika beliau mendengar salah satu ayat Al-Qur’an, beliau berkata: “Demi Allah, apa yang diucapkan Muhammad memiliki keindahan, manis didengar, bagian atasnya berbuah dan bagian bawahnya subur; ia mengalahkan dan tidak dapat dikalahkan.”. oleh karena itu, bahasa arab memiliki keistimewaan dibanding dengan bahasa bahasa yang lain

             Tidak hanya itu, bahasa arab sendiri dapat melahirkan cabang cabang ilmu yang lain. Seperti halnya: ilmu nahwu, ilmu ashwat, ilmu mantiq dan masih banyak cabang keilmuan lain, yang mana hal tersebut bermuara dari satu sumber yaitu bahasa arab. Maka dari itu, dalam khazanah bahasa arab, terdapat perkembangan ilmu yang sangat panjang dan sampai zaman ini, eksistensi dari kseseluruhan ilmu tersebut masih tetap terjaga. Bahkan ketika peradaban islam mengalami puncak keemasan, bahasa arab menjadi sentral utama yang berperan menjadi kajian utama dalam peradaban tersebut. Sehingga secara historis, apabila bangsa barat tidak dapat menaklukan islam, maka hingga sekarang pun bangsa iyu tidak akan mengalami masa pencerahan. Dari fakta tersebut menunjuk kan bahwa islam ada kaitanya dengan ilmu dalam bahasa arab, itupun menjadi revolusioner dalam khazanah keislaman. Namun ironisnya, di zaman sekarang kebanyakan masyarakat menganggap bahasa arab hanya sebagai bahasa ritual dan juga bahasa yang dapat menjadi perantara untuk mendapatkan pahala. Maka dari itu kiranya penting apabila masyarakat dapat mengetahui mengenai urgensi dari bahasa arab yang dapat melahirkan beberapa cabang ilmu yang tersusun secara sistematis. Lebih lebih kaum akademisi yang sedang mengkaji suatu keilmuan juga sangat penting guna menggali sebuah wawasan. Dan tulisan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mengenai urgensi dari bahasa arab yang dapat terpecah maupun berkembang menjadi beberapa cabang keilmuan. Maka dari itu tuliasan ini akan berfokus mengungkap mengenai epistemologi dan ontologis dalam bahasa arab serta filsafat bahasa, dengan dikorelasikan terhadap ayat-ayat Al-Qura’n. Sebelum kita mengkaji tentang epistimologi dan ontologis dalam bahasa arab, kita perlu mengetahui tentang ilmu kebahasaan yang akan kita kupas tuntas dalam ilmu filsafat bahasa. Dari hal tersbut perlu dikaji untuk dasar pemahaman tentang suatu ilmu bahasa.

            Filsafat bahasa adalah ilmu yang membahas tentang dasar-dasar dan unsur-unsur kebahasaan yang dikaji secara mendalam. Dalam salah satu jurnal ilmiah, filsafat bahasa diartikan sebagaipenyelidikan secara mendalam yang digunakan dalam bahasa, sehingga terlihat mengandung atau tidak suatu makna dalam keilmuan yang menggunakan bahasa tersebut. Jadi, filsafat bahasa tidak hanya mengkaji suatu kaidah dalam kebahasaan, tetapi mengkaji suatu kebahasaan dan makna yang terkandung secara luas dan menyeluruh. Sama halnya filsafat pada umumnya, dalam filsafat bahasa juga memiliki sistematika yang sama yaitu dari aspek epistimologis, ontologis, dan aksiologi. Namun untuk membatasi pembahasan  yang dijadikan alur dari kajian ini, maka kiranya penulis perlu untuk mengarahkan kepada pembaca sub pembahasan pada kajian ini secara selaras dan teratur. Oleh karena itu, disini penulis terfokuskan pada pemaparan lebih lanjut dari aspek ontologis.

            Dalam pembahasan berikutnya, penulis akan mengupas tuntas dari salah satu dari tiga sistematika filsafat seperti yang dijelaskan diatas. Namun sebelum mendalami pembahsan tersebut, mungkin kita akan sedikit meng explore wawasan dari penjelasan diatas. Dengan harapan supaya pembahsan yang satu dengan lainya, tetap tersusun sistematis dan tidak rancu. Sebenarnya hubungan antara filsafat dengan bahasa sudah ada sejak zaman Yunani. Dengan bukti adanya proses dialektika antara socrates dengan kaum sofis. Dalam dialektika yang dilakukan, maka secara otomatis selalu menggunakan sebuah simbol dalam ungkapan atau arhumen yang dilontarkan. Dengan bertujuan agar penutur dapat mengutarakan maksud dari pikiran. Dan begitupun sebaliknya, hal itu juga akan berimplikasi terhadap lawan bicara, yang mana ia akan mampu menangkap mmaksud atau tujuan dari penutur. Maka dari hubungan antara keduanya, munculah sebuah kesepakatan dari masing-masing. Dan dari kegiatan tersebut, socrates menyebutnya dengan dialektika. Atau yang kita kenal secara sederhana dengan kegiatan komunikasi atau interaksi antar sesama. Dan dari proses dialektika tersebut, lahirlah sebuah teori filsafat. Jadi hubungan antara filsafat dengan bahasa sangtlah erat atau serasi. Dengan peran utama dari bahasa guna mentransfer ataupun memproduksi teori filsafat. Maka dapat disimpulkan, filsafat sangat lah membutuhkan bahsa, namun tanpa filsafat, bahasa tetap ada.kemudian Dikarenakan bahasa juga kiranya perlu berkembang agar tetap dinamis, maka dari itu dalam kajian bahasa juga membutuhkan peran filsafat. Dan dari sini lahirlah filsafat dengan tiga sistematika utama nya.

            Kemudian setelah kita melalui pembahasan diatas, mengenai hubungan bahasa dengan filsafat, maka selanjutnya kita akan mendalami tiga sistematika filsafat bahasa seperti yang sudah disinggung diatas. Dalam hal ini penulis terlebih dahulu memaparkan hakikat dari bahasa atau dalam pembahasan ini penulis memfokuskan terhadap kajian bahasa yakni ontologis. Secara mendasar bahasa tidak di pahami hanya sebagai alat atau media komunikasi, namun ternyata dalam kajian ontologis bahasa, hakikat bahasa juga dipahami sebagai media untuk mentransfer pemahaman yang ada dalam pikirkan, kemudian setelah itu di wujudkan dalam bentuk bahasa. Namun ternyata fungsi bahasa lebih dari itu. Menurut Chaer, terdapat lima fungsi bahasa yaitu: fungsi ekspresi, fungsi informasi, fungsi eksplorasi, fungsi persuasi dan yang terakhir fungsi entertaimnt. Pada fungsi ekspresi, bahasa dibutuhkan manusia karena sebagai media mewujudkan sesuatu yang bersumber dari pikiran serta batin. Kemudian diungkapkan lah kepada lawan bicara, sehingga sebuah pemahaman dapat ditransfer kepada lawan bicara. Maka hal itu dimaksud kedalam fungsi bahasa sebagai ekspresi, atau biasa kita sebut dengan kegiatan komunikasi. Lalu kedua fungsi bahasa sebagai informasi, yaitu bahasa digunakan manusia untuk memberikan pesan, berita dan amanah kepada orang lain. Baik itu secara verbal dan non verbal. Dan yang ketiga fungsi bahasa yaitu sebagai eksplorasi. Dari fungsi tersebut bahasa digunakan manusia untuk menjelaskan suatu hal, perkara serta keadaan. Dalam fungsi demikian ternyata terdapat nilai eksplorasi yang lebih seperti yang di ungkapkan oleh Kinneavy dalam kaitanya terhadap fungsi eksplorasi yaitu, penggunaan bahasa dalam menjelaskan pikiran, keadaan dan suatu hal dalam realitas.

            Dari pembahasan tersebut, dapat diketahui secara sederhana bahwasanya dari keterkaitan antara filsafat dengan bahasa. Dalam hal ini, sebuah pemahaman bahasa selain menjadi alat komunikasi, ternyata bahasa juga menjadi sebuah media utama dalam proses dialektis atau proses lahirnya sintesis baru antara tesis dan anti tesis. Maka dalam kajian ini, penulis memfokuskan sebuah arah dari pembahasan nya dalam hubungan antara bahsa dan filsafat. Sehingga dari pembahasan tersebut pembaca akan di sajikan sebuah nilai integrasi yang serasi. Untuk itu, disini penulis akan memaparkan dari suatu karya yang di tulis oleh saiful musthofa dalam sebuah karyanya nya yaitu:

الوظيفة الأساسية للغة هي التعبير عَنْ أَفْكَارِ وَمَشَاعِر وانفعالات الفرد المتكلم إلى المخاطب، واللغة هي وسيلة التفاهم بين البشر، وهي أداة لا يستغني عنها الفرد في تعامله وحياته فهي الأداة الخاصة بتصريف شؤون المجتمع الإنساني

Fungsi utama bahasa adalah untuk mengekspresikan pikiran, perasaan, serta emosi individu yang berbicara kepada lawan bicaranya. Bahasa merupakan sarana pemahaman antarmanusia, dan ia adalah alat yang tidak dapat ditinggalkan oleh individu dalam pergaulan dan kehidupannya, karena ia merupakan instrumen khusus untuk mengatur kepentingan-kepentingan masyarakat manusia. Dalam Penjelasan saiful diatas mengatakan, bahwasan bahasa terdapat beberapa fungsi fundamen, yaitu: fungsi individual, fungsi sosial serta fungsi yang tak terlepaskan dalam kehidupan manusia. Maka dengan itu, dalam perspektif tersebut, dapat melengkapi pada point-point yang tersampaikan dalam pembahasan diatas. Sehingga, fokus kajian dalam fungsi bahasa akan menjadi variatif,  dan sentral sekali kedudukanya dalam mentransfer ilmu. Disamping bahasa sebagai alat komunikasi, namun dalam hal keilmuan, bahasa menjadi posisi sentral yang mana dengan bahasa digunakan untuk meng analisis, menggali serta meng kontruksi hal hal baru yang terdapat pada realitas.

Hal ini merujuk pada point utama pada perspektif saiful musthofa, bahwasanya bahasa sebagai alat untuk mengekspresikan sebuah pikiran, perasaan dan ungkapan seseorang terhadap objek dalam percakapan maupun suatu dialektika. Terkhusus dalam dialektika, bahasa menjadi sarana transfer pengetahuan kepada orang lain dan menjadi objek yang terhubung dalam dialektika tersebut, serta memberikan feedback berupa pengetahuan dan juga gagasan yanga tidak terlepas dari peran bahassa sebagai instrumen utama untuk melahirkan sebuah konklusi baru. Maka dari itu, dari pemaparan diatas munculnya conclution bahwasanya:

“BAHASA MERUPAKAN ELEMEN DASAR DALAM DIALEKTIKA DAN SUATU DIALEKTIKA MENGHASILKAN PENGAETAHUAN, SEHINGGA TERCIPTANYA SUATU KEILMUAN YANG SISTEMATIS DARI SUSUNAN PENGETAHUAN YANG TERSTRUKTURAL”

'Moh. Alvin Faizi'

Walluhu A’lam........ 

            Setelah dikaji secara mendalam tentang Filsafat, Bahasa, dan Dialetika dari Kajian : The Tree Musketeer Of Science (Filsafat, Bahasa, Dialektika), akan ada suatu Research Gap (Kekosongan penelitian) dalam perspektif Islam, berupa; bahasa Arab menjadi komponen utama dalam memahami segala bidang keilmuan. Dimana Islam adalah agama yang berpegang teguh kepada Kitab Suci Al-Qur’an yang kitabnya diturunkan oleh Allah SWT. Kepda Nabi Muhammad SAW. Melalui perantra malaikat Jibril secara mutawatir (terus-menerus) dan Talaqqi (Langsung). Dalam hal ini, Al-Qur’an sendiri memiliki suatu keistimewaan dalam bidang Linguistik atau bahasa yang Orisinilitasnya terjaga hingga sekarang. Al-Qur’an pada kala itu diturunkan menggunakan bahasa arab yang bahasa tersbut sampai sekarang menjadi bahasa paling banyak variasinya.

            Bahasa Arab, merupakan salah satu bahasa Semit yang memiliki kekayaan kosakata dan struktur semantik yang kompleks. Kekayaan ini tercermin dari banyaknya lafadz yang tidak hanya memiliki satu makna, tetapi lebih dari satu, bahkan ada yang memiliki makna yang saling berlawanan. Fenomena ini menjadikan bahasa Arab unik sekaligus menantang, khususnya bagi para pembelajar bahasa Arab non-penutur asli. Tidak jarang, keberagaman makna ini menimbulkan kesulitan dalam memahami teks-teks klasik seperti Al-Qur’an, hadis, maupun karya sastra Arab. Dalam hal ini, akan di kaji secara mendalam bahwasanya Bahasa Arab adalah suatu dasar dalam segala keilmuan, dikarenakan adanya hubunganya dengan Kitab Suci Al-Qur’an yang menggunakan bahasa tersebut, Allah SWT. Berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْناهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ (٢)

Artinya: Sesungguhnya Kami menurunkannya sebagai Al-Qur’an berbahasa Arab agar kalian memahaminya (QS. Yusuf: 2)

            Dalam ayat tersebut, dapat dipahami bahwasnya Al-Qur’an turun memang sedari awal menggunakan bahasa Arab. Imamuna Al-Qurthubi dalam kitab Tafsir Al-Jami’ Li Ahkami Al-Qur’an menjelaskan, frasa “Qur’ānan” dinashabkan sebagai ḥāl (keterangan keadaan), yakni dalam keadaan tersusun dan terbaca. Sedangkan kata “‘Arabiyyan” menjadi sifat bagi kata “Qur’ānan”. Selain itu, boleh juga dipahami sebagai pendahuluan bagi ḥāl, sebagaimana ungkapan: مَرَرْتُ بِزَيْدٍ رَجُلًا صَالِحًا “Aku melewati Zaid sebagai seorang laki-laki yang saleh.” Maka frasa “‘Arabiyyan” berkedudukan sebagai ḥāl, yakni: dibacakan dengan keadaan bahasa kalian wahai bangsa Arab.

            Lebih dalam lagi, dalam ayat tersebut terdapat frasa لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ “agar kalian memahaminya”. Dimana, frasa tersebut dapat dipahami agar manusia yang berpegang teguh kepada Al-Qur’an dapat memehami makna dan isi kandunganya. Al-Qurthubi berpendapat; Sebagian orang Arab menggunakan huruf “an” bersama kata “la‘alla” karena menyerupakannya dengan kata “‘asā” (semoga). Huruf lam dalam “la‘alla” dianggap tambahan untuk penegasan, sebagaimana syair:

يَا أَبَتَا عَلَّكَ أَوْ عَسَاكَا

Artinya: Wahai ayahku, semoga engkau....

            Frasa لَعَلَّ selain mengandung makna Tarojji (mengharapkan), juga mengandung Taukid berupa huruf lam.  Dalam hal ini, dapat di ambil suatu penjelasan  bahwasanya bahasa arab merupakan dasar utama untuk memahami, bahkan mempermudah dalam meraskan suatu manfaat dari Al-Qur’an.

            Al-Qur’an sendiri memiliki suatu keistimewaan berupa; “Sholihun fi Kulli Zaman Wa Al-Makan” (Relevan untuk semua zaman dan keadaan), hal tersebut sudah terbukti dengan banyaknya ayat Al-Qur’an yang menjadi dasar dalam segala penyelesaian permasalahan pada suatu Keilmuan, baik dalam bidang Umum maupun Agama. Akan tetapi, dalam kajian ini akan difokuskan tentang Urgensi Bahasa, terutama bahasa Arab dalam menguasai, memahami, bahkan mendalami seluruh bidang keilmuan. Seperti yang disampaikan diatas, bahasa adalah suatu elemen untuk memehami antar manusia. Berdasarkan kajian The Tree Musketeer of Science: (Filsafat, Bahasa, Dialektika) dapat disimpulkan bahwa bahasa merupakan elemen fundamental dalam kehidupan manusia, baik sebagai alat komunikasi sosial maupun sebagai instrumen utama dalam membangun peradaban ilmu pengetahuan. Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai media penyampaian pesan, tetapi juga sebagai sarana ekspresi pikiran, emosi, eksplorasi realitas, serta pembentukan pemahaman yang sistematis.

            Hubungan antara filsafat dan bahasa memiliki keterkaitan yang sangat erat. Filsafat membutuhkan bahasa sebagai instrumen utama dalam proses dialektika, sedangkan bahasa membutuhkan filsafat agar tetap berkembang secara kritis dan dinamis. Dari proses dialektika tersebut lahir sintesis baru yang kemudian berkembang menjadi teori, konsep, dan cabang-cabang ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu, bahasa dapat dipandang sebagai fondasi utama dalam proses lahirnya pengetahuan. Dalam perspektif Islam, bahasa Arab memiliki posisi yang sangat istimewa karena menjadi bahasa Al-Qur’an. Keistimewaan tersebut tidak hanya terletak pada aspek religius, tetapi juga pada kekayaan linguistik, estetika, struktur semantik, dan kedalaman makna yang dimilikinya. Bahasa Arab terbukti mampu melahirkan berbagai disiplin ilmu seperti nahwu, sharaf, balaghah, mantiq, dan cabang keilmuan lainnya yang berkontribusi besar terhadap perkembangan peradaban Islam maupun dunia.

            Melalui kajian ontologis, epistemologis, dan aksiologis, dapat dipahami bahwa bahasa Arab bukan sekadar bahasa ritual keagamaan, melainkan bahasa ilmu pengetahuan yang memiliki urgensi besar dalam memahami Al-Qur’an, membangun tradisi intelektual, serta mengembangkan berbagai bidang keilmuan secara sistematis. Dengan demikian, bahasa Arab menjadi instrumen utama dalam proses memahami wahyu, membentuk dialektika ilmiah, dan melahirkan konstruksi pengetahuan yang terstruktur. Dan dapat ditarik sebuah Hipotesis Utama berupa:

“Bahasa merupakan elemen dasar dalam proses dialektika filsafat yang berperan dalam melahirkan serta mengembangkan ilmu pengetahuan secara sistematis.”

'Muchammad Yusuf Hidayat'

Wallahu a’lam......




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makna “Bi Ḥablillāh” sebagai Prinsip Persatuan dalam Islam : Kajian Tafsir QS. Ali-Imran (3) : 103

Di UIN Syech Wasil Kediri lebih tepatnya pada fakultas FUDA (Fakultas Ushuluddin dan Dakwah) prodi IAT (Ilmu Al Qur'an dan Tafsir) telah melaksanakan TAFASIR atau biasa disebut PBAK Prodi. PBAK merupakan awal perjalanan kita di kampus yang notabene beragama islam. Suasana penuh tawa, canda, dan keakraban membuat dua hari terasa begitu cepat. Dari yang awalnya masih canggung, kini mulai terjalin persahabatan yang hangat. Kebersamaan inilah yang membuat kita belajar, bahwa ilmu bukan hanya datang dari ruang kelas, tetapi juga dari interaksi, pengalaman, dan persaudaraan yang lahir dalam momen-momen sederhana. Allah SWT berfirman dalam potongan ayat Al-Qur’an: وَاعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًۭا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ Artinya: “Dan berpegangteguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai...” (QS. Ali Imran: 103) Dalam potongan Ayat ini terdapat frasa بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًۭا (ikatan dengan Allah berupa kebersamaan) dapat di ta'wilkam bahwa ...

DARI PERSUASI KE VERIFIKASI: INTEGRASI RETORIKA KLASIK DAN ETIKA KOMUNIKASI DALAM SUDUT PANDANG KOMPARATIF ILMU FILSAFAT DAN AL-QUR'AN

Di kalangan mahasiswa sendiri mungkin beberapa sudah biasa menemui basic yang menjadi ciri khas yaitu: public speaking. Dari asumsi tersebut memang sangat benar, namun saya pikir hal itu lebih sempurna apabila di kombinasikan dengan ilmu retorika. Dikarenakan output dari public speaking sendiri hanya sekedar mengolah dan mengembangkan ketrampilan berbahasa atau komunikasi. Dan arahnya hanya akan tertuju pada pemahaman dari lawan bicara ataupun audiens. Namun apabila ilmu retorika, hal itu berbeda dengan public speaking. Output dari retorika sendiri mengarah ke persuasif atau mengelabuhi dengan cara halus. Jadi sasaran dari retorika yaitu: dari segi kognitif dan juga afektif bukan hanya sekedar pemahaman. Dan bisa disimpulkan ilmu retorika disisni terdapat nilai komunikasi yang lebih dikarenakan hal itu hingga dapat mempengaruhi lawan bicara. Nah apabila kita sudah mengetahui perbandingan dari public speaking dan ilmu retorika, maka dari sini kita dapat menemukan kesimpulan bahwasanya b...

STRUKTUR IBADAH DAN MAKNA IKHLAS" DALAM QS. AL-BAYYINAH (93) : 5

QS. Al-Bayyinah (98) : 5 وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ  ۝٥   wa mâ umirû illâ liya‘budullâha mukhlishîna lahud-dîna ḫunafâ'a wa yuqîmush-shalâta wa yu'tuz-zakâta wa dzâlika dînul-qayyimah Artinya: Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya lagi hanif (istiqamah), melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus (benar). STRUKTUR IBADAH DAN MAKNA IKHLAS DALAM QS. AL-BAYYINAH (93) : 5 Part 01 وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ "Dan mereka tidak diperintahkan kecuali agar menyembah Allah." Imam Az-Zamakhsyarī dalam kitab tafsirnya memaknai ayat tersebut, bahwa seluruh ajaran yang terdapat dalam kitab-kitab samawi bermuara pada satu tujuan utama, yaitu penghambaan murni kepada Allah. Beliau juga menjelaskan bahwa: وما أمروا بما في الكتابين إلا لأجل أن يعبدوا ال...