Bahasa merupakan
komponen utama dalam menyambung kesosialan antar manusia, dengan bahasa
seseorang dapat menyalurkan pemahaman ataupun maksud dalam berkomunikasi.
Sehingga dengan bahasa seseorang dapat menerapkan dirinya sebagai makhluk
sosial. Dengan ini bahasa dapat menumbuhkan sosial yang baik dengan sesama,
atau bisa disebut keakraban. Di dunia, ada lebih dari 3000 bahasa yang
digunakan dalam berkomunikasi. Salah satu bahasa yang paling dominan adalah
bahasa arab, dimana bahasa ini memiliki lebih banyak penutur daripada
bahasa-bahasa lainnya dalam rumpun bahasa Semit. Bahkan dituturkan oleh lebih
dari 280 juta orang sebagai bahasa pertama. Maka dari itu, bahasa arab dinilai sebagai
pengguna mayoritas, dan juga bahasa arab dianggap salah satu bahasa yang
masyhur, terutama oleh kalangan yang beragama islam.
Seorang muslim mungkin hanya menganggap keistemewaan bahasa arab
hanya dikarenakan menjadi bahasa kitab suci mereka yakni, Al-Qura’n. Selain
itu, keistimewaan tersebut ternyata sesuai dalam bahasa arab yang memiliki
keunikan identik. Dalam hal ini, terlihat dalam sebuah upaya pengkajian bahasa
arab yang ditemukan dalam khazanah atau cabang-cabang ilmu yang digunakan dalam
penggunaan bahasa arab. Dari keunikan tersebut, seseorang secara otomatis akan mengexplore
keilmuanya bukan hanya dalam segi dialog ataupun pembicaraan saja. karena ia
akan tergerak untuk mendalami dari segi gramatika maupun aspek yang lain dalam
bahasa arab. Dari sini, jikalau dilihat dari sudut pandang dalam bahasa arab maka
akan terlihat dari unsur kebahasaanya saja. Namun, di sisi lain bentuk keunikan
bahasa arab terletak pada unsur keindahan dalam penyusunan maupun variasi dalam
bentuk linguistiknya. Dimana dalam bahasa arab terdapat sebuah nilai estetika
yang bisa dibuktikan dalam kisah seorang tokoh dari kamu quraisy yang bernama Al-Walid
ibn al-Mughirah. Ia dikenal sebagai kritikus sastra arab yang sangat ahli
dimasanya. Dikisahkan bahwasanya ketika beliau mendengar salah satu ayat
Al-Qur’an, beliau berkata: “Demi Allah, apa yang diucapkan Muhammad memiliki
keindahan, manis didengar, bagian atasnya berbuah dan bagian bawahnya subur; ia
mengalahkan dan tidak dapat dikalahkan.”. oleh karena itu, bahasa arab
memiliki keistimewaan dibanding dengan bahasa bahasa yang lain
Tidak hanya itu, bahasa arab sendiri dapat
melahirkan cabang cabang ilmu yang lain. Seperti halnya: ilmu nahwu, ilmu
ashwat, ilmu mantiq dan masih banyak cabang keilmuan lain, yang mana hal
tersebut bermuara dari satu sumber yaitu bahasa arab. Maka dari itu, dalam
khazanah bahasa arab, terdapat perkembangan ilmu yang sangat panjang dan sampai
zaman ini, eksistensi dari kseseluruhan ilmu tersebut masih tetap terjaga.
Bahkan ketika peradaban islam mengalami puncak keemasan, bahasa arab menjadi
sentral utama yang berperan menjadi kajian utama dalam peradaban tersebut.
Sehingga secara historis, apabila bangsa barat tidak dapat menaklukan islam,
maka hingga sekarang pun bangsa iyu tidak akan mengalami masa pencerahan. Dari
fakta tersebut menunjuk kan bahwa islam ada kaitanya dengan ilmu dalam bahasa
arab, itupun menjadi revolusioner dalam khazanah keislaman. Namun ironisnya, di
zaman sekarang kebanyakan masyarakat menganggap bahasa arab hanya sebagai bahasa
ritual dan juga bahasa yang dapat menjadi perantara untuk mendapatkan pahala.
Maka dari itu kiranya penting apabila masyarakat dapat mengetahui mengenai
urgensi dari bahasa arab yang dapat melahirkan beberapa cabang ilmu yang
tersusun secara sistematis. Lebih lebih kaum akademisi yang sedang mengkaji
suatu keilmuan juga sangat penting guna menggali sebuah wawasan. Dan tulisan
ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mengenai urgensi dari bahasa arab yang
dapat terpecah maupun berkembang menjadi beberapa cabang keilmuan. Maka dari
itu tuliasan ini akan berfokus mengungkap mengenai epistemologi dan ontologis
dalam bahasa arab serta filsafat bahasa, dengan dikorelasikan terhadap
ayat-ayat Al-Qura’n. Sebelum kita mengkaji tentang epistimologi dan ontologis
dalam bahasa arab, kita perlu mengetahui tentang ilmu kebahasaan yang akan kita
kupas tuntas dalam ilmu filsafat bahasa. Dari hal tersbut perlu dikaji untuk
dasar pemahaman tentang suatu ilmu bahasa.
Filsafat bahasa adalah ilmu yang
membahas tentang dasar-dasar dan unsur-unsur kebahasaan yang dikaji secara
mendalam. Dalam salah satu jurnal ilmiah, filsafat bahasa diartikan
sebagaipenyelidikan secara mendalam yang digunakan dalam bahasa, sehingga
terlihat mengandung atau tidak suatu makna dalam keilmuan yang menggunakan
bahasa tersebut. Jadi, filsafat bahasa tidak hanya mengkaji suatu kaidah dalam
kebahasaan, tetapi mengkaji suatu kebahasaan dan makna yang terkandung secara
luas dan menyeluruh. Sama halnya filsafat pada umumnya, dalam filsafat bahasa
juga memiliki sistematika yang sama yaitu dari aspek epistimologis, ontologis,
dan aksiologi. Namun untuk membatasi pembahasan yang dijadikan alur dari kajian ini, maka
kiranya penulis perlu untuk mengarahkan kepada pembaca sub pembahasan pada kajian
ini secara selaras dan teratur. Oleh karena itu, disini penulis terfokuskan
pada pemaparan lebih lanjut dari aspek ontologis.
Dalam pembahasan berikutnya, penulis
akan mengupas tuntas dari salah satu dari tiga sistematika filsafat seperti
yang dijelaskan diatas. Namun sebelum mendalami pembahsan tersebut, mungkin
kita akan sedikit meng explore wawasan dari penjelasan diatas. Dengan harapan
supaya pembahsan yang satu dengan lainya, tetap tersusun sistematis dan tidak
rancu. Sebenarnya hubungan antara filsafat dengan bahasa sudah ada sejak zaman
Yunani. Dengan bukti adanya proses dialektika antara socrates dengan kaum
sofis. Dalam dialektika yang dilakukan, maka secara otomatis selalu menggunakan
sebuah simbol dalam ungkapan atau arhumen yang dilontarkan. Dengan bertujuan
agar penutur dapat mengutarakan maksud dari pikiran. Dan begitupun sebaliknya,
hal itu juga akan berimplikasi terhadap lawan bicara, yang mana ia akan mampu
menangkap mmaksud atau tujuan dari penutur. Maka dari hubungan antara keduanya,
munculah sebuah kesepakatan dari masing-masing. Dan dari kegiatan tersebut,
socrates menyebutnya dengan dialektika. Atau yang kita kenal secara sederhana
dengan kegiatan komunikasi atau interaksi antar sesama. Dan dari proses
dialektika tersebut, lahirlah sebuah teori filsafat. Jadi hubungan antara
filsafat dengan bahasa sangtlah erat atau serasi. Dengan peran utama dari
bahasa guna mentransfer ataupun memproduksi teori filsafat. Maka dapat
disimpulkan, filsafat sangat lah membutuhkan bahsa, namun tanpa filsafat,
bahasa tetap ada.kemudian Dikarenakan bahasa juga kiranya perlu berkembang agar
tetap dinamis, maka dari itu dalam kajian bahasa juga membutuhkan peran
filsafat. Dan dari sini lahirlah filsafat dengan tiga sistematika utama nya.
Kemudian setelah kita melalui
pembahasan diatas, mengenai hubungan bahasa dengan filsafat, maka selanjutnya
kita akan mendalami tiga sistematika filsafat bahasa seperti yang sudah
disinggung diatas. Dalam hal ini penulis terlebih dahulu memaparkan hakikat dari
bahasa atau dalam pembahasan ini penulis memfokuskan terhadap kajian bahasa
yakni ontologis. Secara mendasar bahasa tidak di pahami hanya sebagai alat atau
media komunikasi, namun ternyata dalam kajian ontologis bahasa, hakikat bahasa
juga dipahami sebagai media untuk mentransfer pemahaman yang ada dalam
pikirkan, kemudian setelah itu di wujudkan dalam bentuk bahasa. Namun ternyata
fungsi bahasa lebih dari itu. Menurut Chaer, terdapat lima fungsi bahasa yaitu:
fungsi ekspresi, fungsi informasi, fungsi eksplorasi, fungsi persuasi dan yang
terakhir fungsi entertaimnt. Pada fungsi ekspresi, bahasa dibutuhkan manusia
karena sebagai media mewujudkan sesuatu yang bersumber dari pikiran serta
batin. Kemudian diungkapkan lah kepada lawan bicara, sehingga sebuah pemahaman dapat
ditransfer kepada lawan bicara. Maka hal itu dimaksud kedalam fungsi bahasa
sebagai ekspresi, atau biasa kita sebut dengan kegiatan komunikasi. Lalu kedua
fungsi bahasa sebagai informasi, yaitu bahasa digunakan manusia untuk
memberikan pesan, berita dan amanah kepada orang lain. Baik itu secara verbal
dan non verbal. Dan yang ketiga fungsi bahasa yaitu sebagai eksplorasi. Dari
fungsi tersebut bahasa digunakan manusia untuk menjelaskan suatu hal, perkara
serta keadaan. Dalam fungsi demikian ternyata terdapat nilai eksplorasi yang
lebih seperti yang di ungkapkan oleh Kinneavy dalam kaitanya terhadap fungsi
eksplorasi yaitu, penggunaan bahasa dalam menjelaskan pikiran, keadaan dan
suatu hal dalam realitas.
Dari pembahasan tersebut, dapat
diketahui secara sederhana bahwasanya dari keterkaitan antara filsafat dengan
bahasa. Dalam hal ini, sebuah pemahaman bahasa selain menjadi alat komunikasi,
ternyata bahasa juga menjadi sebuah media utama dalam proses dialektis atau
proses lahirnya sintesis baru antara tesis dan anti tesis. Maka dalam kajian
ini, penulis memfokuskan sebuah arah dari pembahasan nya dalam hubungan antara
bahsa dan filsafat. Sehingga dari pembahasan tersebut pembaca akan di sajikan
sebuah nilai integrasi yang serasi. Untuk itu, disini penulis akan memaparkan
dari suatu karya yang di tulis oleh saiful musthofa dalam sebuah karyanya nya
yaitu:
الوظيفة الأساسية للغة هي التعبير عَنْ أَفْكَارِ
وَمَشَاعِر وانفعالات الفرد المتكلم إلى المخاطب، واللغة هي وسيلة التفاهم بين
البشر، وهي أداة لا يستغني عنها الفرد في تعامله وحياته فهي الأداة الخاصة بتصريف
شؤون المجتمع الإنساني
Fungsi utama bahasa adalah untuk mengekspresikan pikiran, perasaan,
serta emosi individu yang berbicara kepada lawan bicaranya. Bahasa merupakan
sarana pemahaman antarmanusia, dan ia adalah alat yang tidak dapat ditinggalkan
oleh individu dalam pergaulan dan kehidupannya, karena ia merupakan instrumen
khusus untuk mengatur kepentingan-kepentingan masyarakat manusia. Dalam Penjelasan
saiful diatas mengatakan, bahwasan bahasa terdapat beberapa fungsi fundamen,
yaitu: fungsi individual, fungsi sosial serta fungsi yang tak terlepaskan dalam
kehidupan manusia. Maka dengan itu, dalam perspektif tersebut, dapat melengkapi
pada point-point yang tersampaikan dalam pembahasan diatas. Sehingga, fokus
kajian dalam fungsi bahasa akan menjadi variatif, dan sentral sekali kedudukanya dalam
mentransfer ilmu. Disamping bahasa sebagai alat komunikasi, namun dalam hal
keilmuan, bahasa menjadi posisi sentral yang mana dengan bahasa digunakan untuk
meng analisis, menggali serta meng kontruksi hal hal baru yang terdapat pada
realitas.
Hal ini merujuk pada point utama pada perspektif saiful musthofa,
bahwasanya bahasa sebagai alat untuk mengekspresikan sebuah pikiran, perasaan
dan ungkapan seseorang terhadap objek dalam percakapan maupun suatu dialektika.
Terkhusus dalam dialektika, bahasa menjadi sarana transfer pengetahuan kepada
orang lain dan menjadi objek yang terhubung dalam dialektika tersebut, serta memberikan
feedback berupa pengetahuan dan juga gagasan yanga tidak terlepas dari peran
bahassa sebagai instrumen utama untuk melahirkan sebuah konklusi baru. Maka dari
itu, dari pemaparan diatas munculnya conclution bahwasanya:
“BAHASA MERUPAKAN ELEMEN DASAR DALAM DIALEKTIKA DAN SUATU DIALEKTIKA MENGHASILKAN PENGAETAHUAN, SEHINGGA TERCIPTANYA SUATU KEILMUAN YANG SISTEMATIS DARI SUSUNAN PENGETAHUAN YANG TERSTRUKTURAL”
'Moh. Alvin Faizi'
Walluhu A’lam........
Setelah dikaji secara mendalam
tentang Filsafat, Bahasa, dan Dialetika dari Kajian : The Tree Musketeer Of
Science (Filsafat, Bahasa, Dialektika), akan ada suatu Research Gap
(Kekosongan penelitian) dalam perspektif Islam, berupa; bahasa Arab menjadi
komponen utama dalam memahami segala bidang keilmuan. Dimana Islam adalah agama
yang berpegang teguh kepada Kitab Suci Al-Qur’an yang kitabnya diturunkan oleh
Allah SWT. Kepda Nabi Muhammad SAW. Melalui perantra malaikat Jibril secara mutawatir
(terus-menerus) dan Talaqqi (Langsung). Dalam hal ini, Al-Qur’an sendiri
memiliki suatu keistimewaan dalam bidang Linguistik atau bahasa yang Orisinilitasnya
terjaga hingga sekarang. Al-Qur’an pada kala itu diturunkan menggunakan bahasa
arab yang bahasa tersbut sampai sekarang menjadi bahasa paling banyak
variasinya.
Bahasa Arab, merupakan salah satu
bahasa Semit yang memiliki kekayaan kosakata dan struktur semantik yang
kompleks. Kekayaan ini tercermin dari banyaknya lafadz yang tidak hanya
memiliki satu makna, tetapi lebih dari satu, bahkan ada yang memiliki makna
yang saling berlawanan. Fenomena ini menjadikan bahasa Arab unik sekaligus
menantang, khususnya bagi para pembelajar bahasa Arab non-penutur asli.
Tidak jarang, keberagaman makna ini menimbulkan kesulitan dalam memahami
teks-teks klasik seperti Al-Qur’an, hadis, maupun karya sastra Arab. Dalam hal
ini, akan di kaji secara mendalam bahwasanya Bahasa Arab adalah suatu dasar
dalam segala keilmuan, dikarenakan adanya hubunganya dengan Kitab Suci
Al-Qur’an yang menggunakan bahasa tersebut, Allah SWT. Berfirman:
إِنَّا أَنْزَلْناهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ
تَعْقِلُونَ (٢)
Artinya: Sesungguhnya Kami menurunkannya sebagai Al-Qur’an
berbahasa Arab agar kalian memahaminya (QS. Yusuf: 2)
Dalam ayat
tersebut, dapat dipahami bahwasnya Al-Qur’an turun memang sedari awal
menggunakan bahasa Arab. Imamuna Al-Qurthubi dalam kitab Tafsir Al-Jami’ Li
Ahkami Al-Qur’an menjelaskan, frasa “Qur’ānan” dinashabkan sebagai ḥāl
(keterangan keadaan), yakni dalam keadaan tersusun dan terbaca. Sedangkan kata “‘Arabiyyan”
menjadi sifat bagi kata “Qur’ānan”. Selain itu, boleh juga dipahami
sebagai pendahuluan bagi ḥāl, sebagaimana ungkapan: مَرَرْتُ
بِزَيْدٍ رَجُلًا صَالِحًا “Aku melewati Zaid sebagai seorang
laki-laki yang saleh.” Maka frasa “‘Arabiyyan” berkedudukan sebagai ḥāl, yakni:
dibacakan dengan keadaan bahasa kalian wahai bangsa Arab.
Lebih dalam lagi, dalam ayat
tersebut terdapat frasa لَعَلَّكُمْ
تَعْقِلُونَ “agar kalian memahaminya”. Dimana, frasa tersebut dapat dipahami
agar manusia yang berpegang teguh kepada Al-Qur’an dapat memehami makna dan isi
kandunganya. Al-Qurthubi berpendapat; Sebagian orang Arab menggunakan huruf “an”
bersama kata “la‘alla” karena menyerupakannya dengan kata “‘asā”
(semoga). Huruf lam dalam “la‘alla” dianggap tambahan untuk
penegasan, sebagaimana syair:
يَا أَبَتَا عَلَّكَ
أَوْ عَسَاكَا
Artinya: Wahai
ayahku, semoga engkau....
Frasa لَعَلَّ selain
mengandung makna Tarojji (mengharapkan), juga mengandung Taukid berupa
huruf lam. Dalam hal ini, dapat
di ambil suatu penjelasan bahwasanya bahasa
arab merupakan dasar utama untuk memahami, bahkan mempermudah dalam meraskan
suatu manfaat dari Al-Qur’an.
Al-Qur’an sendiri memiliki suatu
keistimewaan berupa; “Sholihun fi Kulli Zaman Wa Al-Makan” (Relevan
untuk semua zaman dan keadaan), hal tersebut sudah terbukti dengan banyaknya
ayat Al-Qur’an yang menjadi dasar dalam segala penyelesaian permasalahan pada
suatu Keilmuan, baik dalam bidang Umum maupun Agama. Akan tetapi, dalam kajian
ini akan difokuskan tentang Urgensi Bahasa, terutama bahasa Arab dalam
menguasai, memahami, bahkan mendalami seluruh bidang keilmuan. Seperti yang
disampaikan diatas, bahasa adalah suatu elemen untuk memehami antar manusia. Berdasarkan
kajian The Tree Musketeer of Science: (Filsafat, Bahasa, Dialektika)
dapat disimpulkan bahwa bahasa merupakan elemen fundamental dalam kehidupan
manusia, baik sebagai alat komunikasi sosial maupun sebagai instrumen utama
dalam membangun peradaban ilmu pengetahuan. Bahasa tidak hanya berfungsi
sebagai media penyampaian pesan, tetapi juga sebagai sarana ekspresi pikiran,
emosi, eksplorasi realitas, serta pembentukan pemahaman yang sistematis.
Hubungan antara filsafat dan bahasa
memiliki keterkaitan yang sangat erat. Filsafat membutuhkan bahasa sebagai
instrumen utama dalam proses dialektika, sedangkan bahasa membutuhkan filsafat
agar tetap berkembang secara kritis dan dinamis. Dari proses dialektika
tersebut lahir sintesis baru yang kemudian berkembang menjadi teori, konsep,
dan cabang-cabang ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu, bahasa dapat dipandang
sebagai fondasi utama dalam proses lahirnya pengetahuan. Dalam perspektif
Islam, bahasa Arab memiliki posisi yang sangat istimewa karena menjadi bahasa
Al-Qur’an. Keistimewaan tersebut tidak hanya terletak pada aspek religius,
tetapi juga pada kekayaan linguistik, estetika, struktur semantik, dan
kedalaman makna yang dimilikinya. Bahasa Arab terbukti mampu melahirkan
berbagai disiplin ilmu seperti nahwu, sharaf, balaghah, mantiq, dan cabang
keilmuan lainnya yang berkontribusi besar terhadap perkembangan peradaban Islam
maupun dunia.
Melalui kajian ontologis,
epistemologis, dan aksiologis, dapat dipahami bahwa bahasa Arab bukan sekadar
bahasa ritual keagamaan, melainkan bahasa ilmu pengetahuan yang memiliki
urgensi besar dalam memahami Al-Qur’an, membangun tradisi intelektual, serta mengembangkan
berbagai bidang keilmuan secara sistematis. Dengan demikian, bahasa Arab
menjadi instrumen utama dalam proses memahami wahyu, membentuk dialektika
ilmiah, dan melahirkan konstruksi pengetahuan yang terstruktur. Dan dapat
ditarik sebuah Hipotesis Utama berupa:
“Bahasa merupakan elemen dasar dalam proses dialektika filsafat
yang berperan dalam melahirkan serta mengembangkan ilmu pengetahuan secara
sistematis.”
'Muchammad Yusuf Hidayat'
Wallahu a’lam......
Komentar
Posting Komentar