QS. Al-Bayyinah (98) : 5 وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ ٥ wa mâ umirû illâ liya‘budullâha mukhlishîna lahud-dîna ḫunafâ'a wa yuqîmush-shalâta wa yu'tuz-zakâta wa dzâlika dînul-qayyimah Artinya: Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya lagi hanif (istiqamah), melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus (benar). STRUKTUR IBADAH DAN MAKNA IKHLAS DALAM QS. AL-BAYYINAH (93) : 5 Part 01 وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ "Dan mereka tidak diperintahkan kecuali agar menyembah Allah." Imam Az-Zamakhsyarī dalam kitab tafsirnya memaknai ayat tersebut, bahwa seluruh ajaran yang terdapat dalam kitab-kitab samawi bermuara pada satu tujuan utama, yaitu penghambaan murni kepada Allah. Beliau juga menjelaskan bahwa: وما أمروا بما في الكتابين إلا لأجل أن يعبدوا ال...
Pada part kali 5 ini akan di jelaskan bagaimana Bi Hablillah dapat menjawab tantangan dalam realitas kehidupan kontemporer dan aktualisasinya di masa sekarang. Dalam konteks masa sekarang, aktualisasi ajaran Al-Qur’an berhadapan dengan berbagai problem nyata, seperti krisis persatuan, degradasi moral, polarisasi sosial, penyalahgunaan media digital, serta kecenderungan memahami agama secara parsial dan emosional. Perbedaan pandangan yang seharusnya menjadi ruang dialog justru kerap melahirkan konflik dan saling menegasikan, sementara nilai takwa dan persaudaraan sering tereduksi oleh kepentingan kelompok dan pragmatisme. Oleh karena itu, pembahasan pada bagian ini berupaya menjawab problem-problem tersebut dengan menegaskan kembali pentingnya berpegang teguh pada nilai Al-Qur’an sebagai landasan etis dan spiritual dalam membangun kehidupan yang harmonis, adil, dan berkeadaban di tengah tantangan zaman. Dalam QS. Ali-Imran (3) : 103 terdapat point besar berupa Bi Hablillah , yang ...